Senin, 28 Desember 2015

Pemikiran Politik Indonesia



TAN MALAKA

Tan malaka adalah teladan tokoh revolusioner kiri yang militant, radikal, dan revolusioner. Namun sayang nama dan perannya dalam kemerdekaan Indonesia sengaja di kaburkan dan di hilangkan oleh rezim Orde Baru dari catatan sejarah dan album pahlawan nasional. Padahal segudang ide-ide dan pemikirannya yang revolusioner telah berperan besar dalam mengantarkan bangsa ini menutup penjajahan di bumi pertiwi.
Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barata pada Juni 1897. Tan Malaka beruntung menjadi anak seorang pegawai pertanian Hindia Belanda selangkah lebih maju dari warga lain. Tak heran jika pada usia 12 tahun dia berkesempatan mengecap sekolah pendidikan guru yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu di Sekolah Rajo, Bukittinggi. Sejak usia sekolah itu pula dia menunjukan kecerdeasaan sebagaimana yang dikatakan guru Belandanya, G.H. Horensma, “Rambutnya hitam-biru yang bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah memancarkan sesuatu.”
Tan Malaka lulus pada tahun 1913 pada usia 17 tahun dia melanjutkan studi ke negeri Belanda untuk sekolah di Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah) di Haarlem. Di negeri penjajah itu dia menyerap ideologi yang menjadi titik perjuangannya sampai akhir hayat. Dia bertemu dengan Herman (pemuda pelarian Belgia) dan seorang Belanda bernama Van Der Mey yang sedikit membuka mata Tan Malaka terhadap politik. Tan malaka juga mendahului sekolah ke Belanda daripada Mohammad Hatta, Nazir Datuk Pamoenjtak, Sutan Sjahrir, Abdu Rivai, Asaat, Ibrahim Taher, Zahrain Zain, dan Abdul Muiz. 
Sepak terjang Tan Malaka menjadi bukti kuatnya semangat perlawanan dari pemuda Minangkabau. Meski terkenal sebagai wilayah yang kuat menganut islam, siapa sangka justru ideologi kiri seperti sosialisme dan komunisme bercokol kuat di sana. Bahkan agama islam menjadi basis persemaian ideology kiri di Minangkabau. Koalisi islam dan sosialisme/komunisme itu di sokong oleh motif yang sama untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Disini Tan Malaka berperan menghubungkan kedua arus tersebut.
Di Belanda, watak Tan Malaka terbentuk seperti membaca, belajar, dan menderita. Tan pun berjuang melawan sakit bronchitis yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat pada musim dingin. Memang sulit untuk membayangkan bahwa dalam keadaan serba terbatas dia melanglang buana membentuk serta membangun ideology dalam perjalanan panjang dari Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api trans-siberia melalu gurun es hingga Vladivostok di timur, terus bolak balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Canton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya, dan Burma dan di kejar oleh bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda karena dia pemikiran Tan Malaka yang pro komunis dan dianggap sebagai agen boshelvik, musuh besar negara-negara tersebut.
Yang penting di catat selama periode pelariannya itu adalah brosur yang di tulis dan di terbitkan di canton pada 1924 yaitu Naar Repoeblik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) dalam bahasa Belanda dan Melayu yang kemudian di terjemahkan ke bahasa Indonesia. Ratusan jilid tersebut lantas di selundupkan ke Hindia Belanda dan di terima oleh para tokoh pergerakaan termasuk Soekarno.
Buku itulah yang menjadi bukti bukti bahwa Tan Malaka adalah penceetus gagasan Indonesia merdeka jauh sebelum proklamasi 17 agustus 1945. Dengan Menuju Republik Indonesia maka untuk pertama kalinya konsep “Republik Indonesia” dicanangkan. Gagasan Tan ini di sampaikan sembilan tahun sebelum Soekarno menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Juga jauh lebih dulu di banding Muhammad Hatta menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka).
Tan Malaka adalah sosok yang selalu konsisten dengan apa yang di tulis dan dipikirkannya. Tan Malaka menolak berunding dengan pemerintahan imperalisme Belanda hanya dengan satu alasan yaitu Indonesia adalah milik bangsa Indonesia kenapa harus berunding meminta kemerdekaan pada bangsa lain? Meski untuk itu, seumur hidupnya dia harus berkelana hidup dari penjara ke penjara.
Namun sayang, ide dan pemikirannya yang terlalu brilian dan konsisten itu menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Tan Malaka di anggap terlalu radikal dan berpotensi mengancam kestabilan nasional pada saat itu. Tan Malaka harus menerima kenyataan pahit bahwa hidupnya harus berakhir di tangan perluru bangsannya sendiri, bangsa yang selama ini di cita-citakan dan di perjuangkannya selama pengembaraannya di luar negri sana. Pembungkaman Tan Malaka telah mengakhiri setiap harapan yang pernah ada bahwa Indonesia akan memilih jalan perjuangan daripada jalan diplomasi.
Tan Malaka menawarkan sebuah jalan “Merdeka 100 Persen”, tapi itu mustahil terjadi dalam gelombang revolusi yang dahsyat saat itu. Dan hanya ia sendiri yang tahu betul apa yang harus di lakukannya untuk mewujudkan cita-citanya itu. Kalau kesuksesan berpolitik di ukur dari seberapa besar kekuasaan yang di peroleh, bukan di sana tempat Tan Malaka. Kesuksesan Tan Malaka terletak pada sikap konsisten dalam berpolitik dan orisinalitas pemikirannya yang berpihak kepada rakyat. Pentingnya ilmu pengetahuan untuk membangun rakyat, seperti yang di tulisnya dalam madilog dan beberapa brosurnya yang menganjurkan kemandirian bangsa, menjadi relevan bila melihat kondisi bangsa kita dewasa ini yang menjadi bangsa yang sangat konsumstif dan berketergantungan dengan Negara lain.
Tan Malaka tidak hanya bicara, tetapi dengan bukti. Dia bukanlah pemimpin flamboyan dan gagah di podium, tetapi dia membangun sekolah rakyat di Semarang, Purwekerto, Bandung, Yogyakarta, dan Batavia, Selama dua tahun di Jawa sebelum di buang ke Belanda (1922). Tan konsekuen denagn sikapnya yang tidak memercayai poltik kompromi (diplomasi) yang di jalankan Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir yang hanya menguntungkan Belanda. Tan Malaka adalah seorang Nasionalis sejati daripada seorang Komunis.

COKROAMINOTO
Haji Omar Said Cokroaminoto lahir di Ponorogo 6 Agustus 1882 dan meninggal dunia pada 17 Desember 1934 dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. Dia dikenal sebagai Ketua Partai Politik Sarekat Islam. Cokroaminoto giat dalam bidang politik, ia membuat carier politiknya di Sarekat Islam yang didirikan pada bulan Mei tahun 1912. Sarekat Islam ialah sebuah persatuan perdagangan di Jawa, Indonesia yang diasaskan pada tahun 1909 di Jakarta oleh RM Tirtoadisuryo, seorang peniaga dari Kota Surakarta. Pada asalnya dinamai Sarekat Dagang Islam (SDI), pertubuhan ini bertujuan untuk membantu peniaga-peniaga kaum bumiputera khususnya dalam industri batik. Selain itu juga untuk menghadapi persaingan daripada pedagang-pedagang Cina.
Pada bulan September tahun 1912, SDI menggantikan namanya menjadi Sarekat Islam (SI) dan melantik Umar Said Cokroaminoto sebagai ketua dan pada bulan Januari 1913 diadakanlah kongres Sarekat Islam yang pertama. Dalam kongres tersebut, Cokroaminoto menegaskan bahawa Sarekat Islam bukanlah sebuah parti politik, tetapi bertujuan untuk
·         Meningkatkan perdagangan di kalangan bangsa Indonesia;
·         Membantu anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi; dan
·         Mengembangkan kehidupan keagamaan dalam masyarakat Indonesia.
Kongres Sarekat Islam yang kedua diadakan pada bulan Oktober 1917 dan diikuti oleh Kongres ketiga antara 29 September hingga 6 Oktober 1918 di Surabaya. Dalam kongres ketiga ini, Cokroaminoto menyatakan bahwa jika Belanda tidak melakukan reformasi sosial secara besar-besaran maka Sarekat Islam pada dirinya akan melakukannya di luar parlemen.
Dalam kongres selama 1913–1916 tampaklah kemana SI dibawa Cokroaminoto, dalam kongres Surabaya 1913 ia dipilih sebagai ketua Pedoman Besar, meskipun pada waktu itu belum ada organisasi pusatnya. Dalam kongres Bandung dinyatakan, bahwa untuk mencapai kemerdekaan ditempuh jalan revolusi, sementara kemudian dalam Kongres Batavia keluar dengan keputusan yang lebih tegas yaitu jalan parlemen atau revolusioner. Sifat nasional-islam-revolusioner itu lebih jelas lagi tampak waktu Central Sarikat Islam 1916 menyatakan akan berjuang melawan kapitalisme sebagai yang pada program perjuangan kongres nasional 1817.
Haji Umar Said Cokroaminoto bukan hanya aktifis politik, melainkan juga pemikir. Pemimpin Sarekat Islam (SI) ini menulis buku Islam dan Sosialisme (1925), juga Tarich Islam (1931). Cokroaminoto bahkan layak disebut sebagai guru bangsa, sejenis hulu sungai bagi kepemimpinan politik di Indonesia. Orang mencatat bahwa Sukarno dari kalangan nasionalis yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), Semaun dari kalangan sosialis yang mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Kartosuwiryo dari kalangan Islam yang mendirikan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Bung Karno bahkan pernah jadi menantunya pula. Karena perannya begitu penting, dulu Cokroaminoto konon sering diledek oleh lawan-lawan politiknya sebagai “De Ongekroonde koning van Indie” (Raja Hindia tanpa Mahkota) atau “De aanstaande koning der Javanen” (Raja Jawa masa depan).
Buku Islam dan Sosialisme, merupakan salah satu buku penting karya cendekiawan Indonesia dari para pertama abad ke-20. Cokroaminoto menulis buku ini dalam bahasa Indonesia pada 1924 kira-kira empat tahun sebelum Sumpah Pemuda antara lain menyerukan pemakaian bahasa Indonesia. Sempat pula buku ini dicetak ulang antara lain pada 1950 dan 1962. Dalam buku ini, Cokroaminoto menggali “anasir-anasir sosialisme” dari khazanah Islam, baik dari sumber teologisnya maupun dari pengalaman historisnya. Pada dasarnya ia menekankan bahwa sosialisme sudah terkandung dalam hakikat ajaran Islam dan sosialisme yang ideal harus diarahkan oleh keyakinan agama (Islam). Itulah yang dia sebut “Sosialisme cara Islam” dan yang ia yakini cocok untuk Indonesia.

Ir. SOEKARNO

Ir. Soekarno atau yang biasa dipanggil Bung Karno yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayah Soekarno adalah seorang guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar Pribumi Singaraja, Bali.
Soekarno hanya menghabiskan sedikit masa kecilnya dengan orangtuanya hingga akhirnya dia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Soekarno pertama kali bersekolah di Tulung Agung hingga akhirnya dia ikut kedua orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School. Di tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Setelah lulus pada tahun 1915, Soekarno melanjutkan pendidikannya di HBS, Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para tokoh dari Sarekat Islam, organisasi yang kala itu dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang juga memberi tumpangan ketika Soekarno tinggal di Surabaya.
Dari sinilah, rasa nasionalisme dari dalam diri Soekarno terus menggelora. Di tahun berikutnya, Soekarno mulai aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian Soekarno ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. 
Di tahun 1920 seusai tamat dari HBS, Soekarno melanjutkan studinya ke Technische Hoge School  (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil. Saat bersekolah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Soekarno berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische Studie Club (dipimpin oleh Dr Soetomo). Algemene Studie Club  merupakan cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Bulan Desember 1929, Soekarno ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di PNI. Pada tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Dari dalam penjara inilah, Soekarno membuat pledoi yang fenomenal, Indonesia Menggugat.
Soekarno dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931. Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap oleh Belanda pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Karena jauhnya tempat pengasingan, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional lainnya.
Namun semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia hingga akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkan tokoh pergerakan Indonesia dimana salah satunya adalah Soekarno untuk menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang. Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang tetap melakukan gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Pada akhirnya Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional lainnya mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sidang yang diadakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) panitia kecil untuk upacara proklamasi yang terdiri dari delapan orang resmi dibentuk.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Teks proklamasi secara langsung dibacakan oleh Soekarno yang semenjak pagi telah memenuhi halaman rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dikukuhkan oleh KNIP.

MOHAMMAD HATTA

Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia.
Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan". Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia.
Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru. Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. 
Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan. Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua. Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.
Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua. Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.
Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.
Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman. Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta. Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.
Hatta menikah dengan Rachim Rahmi pada tanggal 18 November 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.
Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" yang diberikan oleh Presiden Soeharto.

SUTAN SYAHRIR

Sjahrir adalah satu dari Tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Ketujuh orang ini yaitu, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, Sudirman, dan A.H. Nasution. Dalam kadar berbeda menentukan arah dan produk revolusi. Republik Indonesia pada zaman revolusi, dengan demikian bukan merupakan akibat dari proses sosial yang impersonal dan tak terhentikan melainkan hasil interaksi ribuan orang dan organisasi, kelompok angkatan bersenjata dan badan perjuangan, politikus nasional dan lokal, idealisme dan oportunisme, patriotisme dan banditisme, pahlawan dan pengecut. Semua ingar-bingar itu berakhir dengan ajaib, pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada Desember 1949.
Ketujuh pemimpin ini dengan caranya masing-masing berkontribusi bagi jalannya revolusi. Setelah revolusi, mereka mengalami peruntungan berbeda, aliansi berbeda, dan perimbangan kekuatan berbeda.
Dalam sejarah Indonesia, Sutan Sjahrir adalah eksponen utama garis ideologis yang dapat disebut perpaduan antara tradisi sosial demokrasi dan liberalisme. Sebagai sosial demokrat, ia merupakan tokoh gerakan buruh yang andal pada 1930-an, dan menaruh perhatian amat besar terhadap masalah pendidikan rakyat. Liberalismenya terlihat antara lain dalam perhatiannya yang besar pula terhadap masalah perlindungan hak-hak individu dari tirani negara. Tak mengherankan bila ia menjadi musuh besar fasisme, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.
Tidaklah mengejutkan bahwa ideologi yang diperjuangkan Sutan Sjahrir mengalami rintangan pada masa Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru yang otoriter. Tetapi, Indonesia sekarang adalah negara demokrasi, bahkan negara demokrasi yang paling tegak di seluruh Asia Tenggara mengingat beberapa perkembangan anti-demokratis di Filipina, dan terutama Thailand, belakangan ini. Sebagai negara demokrasi, barangkali kita berharap menemukan para ahli waris garis ideologi yang diperjuangkan oleh Sutan Sjahrir di antara berbagai kekuatan politik yang sekarang bersaing secara bebas dan terbuka untuk memimpin Indonesia.
M. Chatib Basri menyatakan :” Sutan Sjahrir seperti sebuah kekecualian bagi zamannya. Mungkin ia terlalu di depan bagi masanya. Ketika nasionalisme adalah tungku yang memanggang anak-anak muda dalam elan kemerdekaan, Sjahrir justru datang dengan sesuatu yang mendinginkan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional tidak final. Tujuan akhir dari perjuangan politiknya adalah terbukanya ruang bagi rakyat untuk merealisasi dirinya, untuk memunculkan bakatnya dalam kebebasan. Tanpa halangan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan adalah sebuah jalan menuju cita-cita itu. Itu sebabnya Sjahrir menganggap nasionalisme harus tunduk kepada kepentingan demokrasi.”
Dalam sebuah esai yang penting Sjahrir menuntut agar demi perjuangan, seseorang harus bebas dari perasaan-perasaan yang menghalangi orang berpikir jujur sesuai dengan kebutuhan perjuangan. Pikiran dan tindakan hendaknya “tidak dikuasai oleh unsur psikologis, melainkan oleh hukum akal budi dan otak yang sanggup berpikir dan bertindak menurut keadaan dan perubahan”. Tampaknya ada dialektik antara Sjahrir dan kebudayaan masyarakatnya, dan tuntutan Sjahrir mungkin hanya separuh benar. Dia lupa bahwa akal harus memperhatikan perasaan, rasio perlu menimbang psikologi, dan logika bertugas menerangi yang irasional. Kalau tidak, dialektik itu akan menelan korban, dan, tragisnya, korban itu tak lain dari diri Sjahrir sendiri, dengan meninggalkan sosial-demokrasi bagaikan yatim piatu.

SOEHARTO

Jend. Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah. Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941.
Dia resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran. Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putrid yakni Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.
Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat). Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin besar revolusi Bung Karno. Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968.
Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998. Namun, akhirnya dia harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa pada 1998, melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan Ambisius tanpa fatsoen politik. Ayah lima anak ini pun menunjukkan ketabahan dan keteguhannya. Dia akhirnya sempat diadili dengan tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang didirikannya. Soeharto menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan dana yayasan itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses peradilannya dihentikan. Tapi tidak semua mantan menterinya tega mengkhianati, tidak mempunyai moral politik. Ada beberapa yang justru makin dekat dengannya secara pribadi setelah bukan lagi berkuasa. Selama masa jabatannya, dia menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985. Maka, dia mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional. Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Dia meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari, sejak 4 sampai 27 Januari 2008 di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Berita wafatnya Soeharto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta. Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.


B.J HABIBIE

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie merupakan keturunan antara orang Jawa (ibunya) dengan orang Makasar/Pare-Pare (ayahnya).
Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus, BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg (1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).
Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie menjadi “permata” di negeri Jerman dan iapun mendapat “kedudukan terhormat”, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman. Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.
Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air.  Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB. Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada  1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya.
Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto akibat salah urus pada masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.
Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi. Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah.
Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.
Setelah ia turun dari jabatannya sebagai presiden, ia lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Tetapi ketika era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center.

NURCHOLIS MAJID

Nurcholish Madjid atau yang populer dipanggil Cak Nur ini merupakan penggagas pluralisme pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia adalah budayawan sekaligus cendekiawan muslim milik bangsa. Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial, terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat. Cak Nur dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Dari kedua orang tuanya, Cak Nur mewarisi darah intelektualisme dan aktivisme dua organisasi besar Islam di Indonesia, yaitu Masyumi yang modernis dan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisionalis.
Mantan ketua HMI di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah ini pernah berjasa dalam krisis kepemimpinan yang dialami bangsa Indonesia pada tahun 1998. Cak Nur adalah orang yang sering dimintai nasehat oleh Presiden Soeharto mengenai kerusuhan dan krisis negara. Atas saran Cak Nur, akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari permasalahan yang lebih parah.
Pembaharuan Islam yang dicetuskan pria pendiri pondok pesantren Tebuireng ini sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial, seperti halnya alm. KH Adurrahman Wahid (Gus Dur). Ide dan gagasan Cak Nur tentang pluralisme juga tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Gagasan mantan rektor Universitas Paramadina ini yang paling kontroversial adalah saat ia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1960-an.
Nama Cak Nur sempat mencuat ketika ia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat calon presiden di Pemilu 2004. Akan tetapi, keputusannya sebagai capres independen yang terlalu dini dan menyatakan bersedia mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Golkar tapi kemudian mengundurkan diri, telah memerosotkan peluangnya meraih kursi orang nomor satu se-Indonesia itu.
Selain menjabat sebagai rektor, semasa hidupnya Cak Nur juga aktif menjadi pembicara dalam seminar internasional Islam di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa di antaranya bahkan berbahasa Inggris. Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara.

RATNA MEGAWANGI

Jauh sebelum suaminya, Sofyan A. Djalil, menjadi Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu, nama Ratna Megawangi, Ph.D, kelahiran Jakarta 24 Agustus 1958, sudah menjadi wacana perdebatan dan polemik hangat di media massa nasional. Ratna, penulis buku berjudul “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” tahun 1999, ini sudah produktif menulis buku dan artikel di sejumlah media massa sejak tahun 1994. Ia aktif membuka wacana tentang anak, keluarga, dan perempuan. Kehadiran Ratna dianggap banyak pihak selalu bernada antagonistis terutama oleh pengusung gerakan feminisme bahkan against the stream bagi mainstream yang sedang berkembang.
Buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” selain bernada antitesa, juga against the stream bagi mainstream gerakan feminisme yang sedang gencar memperjuangkan kesetaraan gender. Ratna di situ menyadarkan para pihak bahwa sesungguhnya antara laki-laki dengan perempuan tidaklah bisa dipersama-ratakan. Secara kodrati, genetika, psikis, dan fisik keduanya berbeda. Karenanya perbedaan itu haruslah dipelihara menjadi sebuah perbedaan yang harmoni. Perbedaan yang bisa diperlihatkan dalam pembawaan peran masing-masing yang saling melengkapi. Ratna dalam bukunya menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.
Buku yang mulai ditulis tahun 1997 dan selesai persis seminggu setelah Tragedi Nasional 14 Mei 1998, kemudian diterbitkan tahun 1999 oleh Penerbit Mizan, Bandung, itu memuat berbagai postulat dasar, idiologi, paradigma, dan contoh-contoh tentang kegagalan ide kesamarataan lelaki-perempuan di berbagai negara terutama di negara komunis, berikut beragam pemikiran lain yang memberikan Ratna kesimpulan akhir bahwa lelaki dan perempuan adalah berbeda. Berbeda sehingga tidak bisa disetarakan secara kuantitatif fifty-fifty. Di Singapura, Korea, atau Jepang, demikian pula di negara-negara maju keterwakilan perempuan di lembaga parlemen sekitar 10% saja. Di Indonesia diperjuangkan jauh lebih liberal harus 30% perempuan di DPR, walau yang bisa dicapai masih belasan persen. Ratna menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.
Pasca kejatuhan rejim Orde Baru, Ratna Megawangi merasa lega sebab ajaran Karl Marx yang ada dalam bukunya, sesuatu yang bisa dicap sebagai tindakan makar dan merongrong ideologi Pancasila pada masa sebelum itu, menjadi lolos sensor alias terbit tanpa harus melalui sensor. Ratna sadar berdasarkan pengalamannya sebagai dosen ilmu filsafat untuk mahasiswa S-2 di IPB Bogor, ide-ide Karl Marx yang ditulisnya bisa membuat seseorang menjadi Marxis sejati, atau di sisi lain malah menjadi sangat konservatif.
Sudut pandang baru tentang relasi gender yang ditawarkan Ratna melawan arus besar justru pada saat kesetaraan sedang digaungkan oleh para penggagas gerakan feminisme. Seketika hadir buku itu segera menjadi bahan polemik berkepanjangan di media massa. Bahkan tak kurang 14 kali Ratna harus hadir langsung di acara bedah buku di beragam komunitas. Tak heran jika buku itu menjadi buku laris atau best seller yang mengalami cetak ulang hingga tiga kali, bahkan bersiap-siap untuk dicetak keempat kalinya.
Selain best seller buku yang penulisannya diinspirasikan oleh buku “The Tao of Islam” karangan Sachico Murata dari Jepang, di mana Ratna menjadi editor edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul sama “The Tao of Islam” diterbitkan oleh Mizan, Bandung tahun 1996, itu menjadi bahan bahan tesis seorang mahasiswi asing asal Sydney, Australia yang pernah bermukim dan magang di UGM Yogyakarta.
Mahasiswi asing yang pandai berbahasa Indonesia itu berhasil mendapatkan buku karangan Ratna Megawangi, lalu membuat tesis khusus tentang buku dengan judul “A Textual Analisys of Membiarkan Berbeda”. Mahasiswi perguruan tinggi The Australian National University itu berpendapat, buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” adalah satu-satunya buku yang pernah ia baca yang memberikan solusi terhadap relasi gender yang lebih harmonis. “Karena memang, di buku itu bab terakhir saya tawarkan solusinya, tak sekadar antagonisme. Tapi, solusinya bagaimana keharmonisan dalam keluarga bisa dibentuk melalui keharmonisan relasi jender,” kata Ratna Megawangi, di rumahnya yang asri kawasan Harjamukti, Cimanggis, Depok. Sebelum menulis buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender”, Ratna sudah sejak lama berani membuka wacana dan polemik tentang masalah anak, keluarga, dan terutama perempuan atau masalah feminisme di harian Kompas, semenjak tahun 1994 atau persis sepulang dari studi S-3 di Amerika Serikat tahun 1993.

BUYA HAMKA

Kegiatan politik Buya Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.
Pada tahun 1955 beliau masuk Konstituante melalui partai Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah pemikiran Hamka sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu. Misalnya, ketika partai-partai beraliran nasionalis dan komunis menghendaki Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di Konstituante, Hamka menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat tentang kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub dalam Piagam Jakarta. Namun, pemikiran Hamka ditentang keras oleh sebagian besar anggota Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Meski begitu, Hamka tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno. Ketika Sukarno wafat, justru Hamka yang menjadi imam salatnya. Banyak suara-suara dari rekan sejawat yang mempertanyakan sikap Hamka. “Ada yang mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga tak perlu disalatkan, namun HAMKA tidak peduli. Bagi Hamka, apa yang dilakukannya atas dasar hubungan persahabatan. Apalagi, di mata Hamka, Sukarno adalah seorang muslim.
Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.
Pada tahun 1978, Hamka lagi-lagi berbeda pandangan dengan pemerintah. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan.
Idealisme Hamka kembali diuji ketika tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal bersama. Sebagai Ketua MUI, Hamka langsung menolak keinginan itu. Sikap keras Hamka kemudian ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari jabatannya. Mendengar niat itu, Hamka lantas meminta Alamsyah untuk mengurungkannya. Pada saat itu pula Hamka memutuskan mundur sebagai Ketua MUI.

MOHAMMAD NATSIR

Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Ia adalah perdana menteri kelima Republik Indonesia. Ia juga pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi dan salah seorang tokoh Islam terkemuka di Indonesia.
Pada masa kecilnya Natsir belajar di HIS Solok dan di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Selanjutnya pada tahun 1923-1927 Natsir mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung hingga tamat pada tahun 1930.
Pada saat di Bandung, Natsir berinteraksi dengan para aktivis pergerakan nasional antara lain Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem dan Sutan Syahrir. Pada tahun 1932, Natsir berguru pada Ahmad Hassan untuk memperdalam ilmu keagamaannya. Dengan keunggulan ilmu spiritualnya, ia banyak menulis soal-soal agama, kebudayaan, dan pendidikan.
Natsir juga dikenal sebagai pribadi yang aktif. Ia memiliki banyak pengalaman organisasi seperti menjadi Wakil Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), menjabat sebagai  Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress), ketua Dewan Masjid se-Dunia, serta anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang berpusat di Mekkah, dan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Karir politik Natsir dimulai ketika pada tanggal 5 April 1950 Natsir mengajukan mosi intergral dalam sidang pleno parlemen, di mana mosi ini berhasil memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan RI (NKRI). Karena prestasi inilah Natsir diangkat menjadi perdana menteri oleh Bung Karno. Presiden RI ini menganggap Natsir mempunyai konsep untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi.
Namun posisinya sebagai Perdana menteri tidak berlangsung lama. Ia mendapat penolakan dan perlawanan dari Partai Nasional Indonesia. Terhitung dua kali anggota Partai Nasional Indonesia di parlemen memboikot sidang sehingga tak memenuhi kuorum. Akhirnya Natsir mengembalikan mandat sebagai perdana menteri.
Secara kepribadian, pria yang banyak berjasa untuk perkembangan dakwah Islam dikenal sebagai pribadi yang berbicara penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut meskipun terhadap lawan-lawan politiknya. Ia juga sangat bersahaja dan kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya. Mohammad Natsir meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada usia 84 tahun.

YUDI LATIF

Yudi Latif lahir di Sukabumi, 26 Agustus  1964. Beliau pernah mondok di Pesantren Modern Gontor Ponorogo, beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Padjajaran bidang Komunikasi, S2 di Australian National University bidang Sosial Politik, dan S3 di Australian National University bidang Sosial Politik dan Komunikasi. Berbagai prestasi telah diraih sejak dibangku sekolah hingga mencapai gelar doktoralnya baik akademik maupun non-akademik. Disertasi doktoralnya tentang “Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia” memberikan terobosan baru dalam studi sosiologi dan sejarah intelektualisme Islam hingga memperoleh banyak pujian.
Karier penelitiannya dimulai ketika bergabung dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 1993. Sejak saat itu, beliau menjadi penyusun awal rancangan pendirian Universitas Paramadina (1996), tempat ia mendirikan berbagai pusat studi dan sempat menjadi wakil rektor dalam urusan penelitian, kemahasiswaan dan pengabdian masyarakat (2004-2007).
Dibidang non –akademik, beliau merupakan penulis yang telah melahirkan karya-karya hebatnya. Beliau telah menerbitkan belasan buku, menulis diberbagai media, mengkaji rubrik tetap di beberapa surat kabar dan majalah, seperti rubrik analisis politik di harian Kompas. Beliau juga menjadi pembicara di berbagai forum nasional dan internasional, dan juga sering menjadi komentator di berbagai acara televisi dan radio. Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi dan lembaga sosial yang memperjuangkan keadilan sosial dan multikulturalisme.
Salah satu buku beliau yang fenomenal adalah buku ”Negara Paripurna (Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila)” yang diluncurkan pertama kali di Ruang Rapat Komisi DPR V pada 2011 lalu. Dalam buku ini dikontruksikan secara lengkap catatan sidang BPUPKI dan persidangan lainnya ketika merumuskan pemikiran untuk menyusun konstitisi. Dengan pemahaman lebih mendalam, buku ini pula memiliki sentuhan intelektualitas yang kaya, serta bahasa yang hidup yang membuat Negara PAripurna ini berharga bagi siapa pun yang peduli terhadap bangsa ini.
Dengan lahirnya buku ini juga berdampak pada Yudi Latif sendiri. Apresiasi publik terhadap buku ini mengantarkan Yudi Latif sebagai penerima beberapa penghargaan, antara lain IFI (Islamic Fair of Indonesia) Award pada Desember 2011 untuk kategori Intelektual Muda Paling Berpengaruh; penghargaan sebagai Ikon Politik Indonesia Tahun 2011 dari Majalah Gatra yaitu Nabil (National Building) Award pada 18 Oktober 2012, dari Yayasan Nabil, sebagai pengakuan atas perjuangan dan pemikiran dalam menegakkan Pancasila yang memberikan sumbangan bagi nation building; dan Megawati Soekarnoputri Award, pada 6 Desember 2012, sebagai penghargaan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan pluralisme. Selain itu, beliau juga diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua Harian Pusat Studi Pancasila, di Universitas Pancasila.


Rabu, 23 Desember 2015

Islam Nusantara



“ISLAM NUSANTARA”

Latar Belakang

Peradaban Islam secara harfiah “kebudayaan” berasal dari kata “budi” dan “daya” ditambahkan awalan “ke” dan akhiran “an”. Budi berarti akal dan daya berarti kekuatan. Dengan demikian kebudayaan Islam berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh kekuatan akal manusia muslim. Sedangkan peradaban berasal dari kata Arab “adab” berarti nilai tinggi. Dengan demikian peradaban Islam adalah kebudayaan Islam yang bernilai tinggi (Musyrifah Sunanto, 2015, Hal 3). Peradaban Islam di dunia telah memberikan pengaruh besar bagi perkembangan suatu negara, begitupun Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sejak zaman pra sejarah penduduk kepulauan Indonesia di kenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di Asia Tenggara. Pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 – ke-7 M  sering di singgahi pedagang Asing. Pedagang-pedagang muslim dari Arab, Persia dan India juga ada sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang pada abad ke-7 ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah.
Malaka merupakan pusat lalu - lintas perdagangan dan pelayaran karena hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok nusantara di bawah di Cina dan India. Dari berita Cina dapat diketahui bahwa pada masa dinasti Tang orang-orang sudah ada di kantong dan Sumatra. Perkembangan pelayaran dan perdagangan antara Asia bagian barat dan timur disebabkan  oleh kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah dan kerajaan Cina zaman Dinasti Tang.
Penduduk kepulauan Indonesia masuk Islam bermula dari penduduk pribumi di koloni pedagang muslim itu. Menjelang abad ke-13, masyarakat muslim sudah ada di samudra Pasai, Perlak, Palembang di Sumatra. Di Jawa makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik 475 H, sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Di negara Indonesia mengikhtisarkan asal kedatangan Islam menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat, India melalui peran para pedagang india muslim pada sekitar abad ke-13 M. kedua, teori Makkah yaitu Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari timur tengah melalui jasa para pedagang arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia yakni Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Melalui kesultanan Tidore yang juga menguasai tanah Papua sejak abad ke-17. Jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai barat Sumatra.
Dari ketiga teori besar masuknya Islam di Indonesia membuat adanya akulturasi atau pencampuran budaya antar satu dengan yang lain sehingga menimbulkan sebuah identitas tersendiri bagi sebuah Negara yang tidak menghilangkan budaya aslinya yang kita sebut sebagi Islam Nusantara.

Pembahasan

A.    Islam Nusantara
Istilah Islam Nusantara akhir-akhir ini mengundang banyak perdebatan sejumlah pakar ilmu-ilmu keislaman. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Alasan penolakan mungkin adalah karena istilah itu tidak sejalan dengan dengan keyakinan bahwa Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.
Munculnya istilah Islam Nusantara merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengacu kepada Islam ala Indonesia yang otentik langgamnya Nusantara, tapi isi dan liriknya adalah Islam, bajunya adalah Indonesia. Ide Islam Nusantara ini berkaitan dengan gagasan “pribumisasi Islam” yang pernah dipopulerkan almarhum KH Abdurrahman Wahid.
Respon terhadap globalisasi dalam bentuk “Islam Nusantara” adalah pilihan terbaik dibandingkan dengan penolakan total atau penerimaan total. Dalam merespon terhadap globalisasi, terutama yang datang dari Barat, beberapa kelompok agama justru mencari perlindungan dalam homogenitas dan eksklusivitas kelompoknya. Sepertinya kedamaian itu bisa terjadi dengan menolak keragaman atau sesuatu yang asing. Di tengah globalisasi, banyak orang yang mencoba menutup diri dan menghalangi orang yang berbeda hadir di tengah masyarakat. Fenomena munculnya perumahan atau cluster perumahan eksklusif untuk komunitas agama tertentu adalah sebagai contoh kecil. Bahkan kuburan/ pemakaman dan rumah kos pun kadang dibuat untuk pengikut agama tertentu. Respon terhadap globalisasi yang lebih buruk lagi tentu saja seperti dalam bentuk redikalisme dan terorisme. Islam Nusantara bisa menjadi respon yang sangat baik terhadap globalisasi jika ia tidak mengarah kepada parokhialisme dan sektarianisme.
Islam Nusantara adalah Islam yang  khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk merusak atau menantang tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya yang ada secara tadriji (bertahap). Bisa jadi butuh waktu puluhan tahun atau beberapa generasi. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi Nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren) serta sistem Kesultanan. Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya Nusantara.
Pemahaman tentang formulasi Islam Nusantara menjadi penting untuk memetakan identitas Islam di negeri ini. Islam Nusantara dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi. Islam nusantara tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas Islam di tanah Jawa. Lebih dari itu, Islam Nusantara sebagai manhaj atau model beragama yang harus senantiasa diperjuangkan untuk masa depan peradaban Indonesia dan dunia. Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang Nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.
Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi dan diikuti proses pribumisasi, sehingga Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun, namun tidak harus bernama dan berbentuk seperti Islam Nusantara karena dalam Islam Nusantara tidak mengenal menusantarakan Islam atau nusantarasasi budaya lain.
Islam nusantara hadir dalam artian memberikan sebuah pemahaman bahwa Islam nusantara adalah islam yang mengajak bukan menginjak, islam yang merangkul bukan memukul, islam yang membina bukan menghina, islam yang memakai hati bukan memaki maki, islam yang mengajak taubat bukan untuk saling menghujat, dan islam yang memberikan pemahaman bukan islam yang memaksa pemahaman. Inilah yang menjadi sebuah identitas bagi Islam di Indonesia (Islam Nusantara),

B.    Tradisi Islam di Nusantara
“Islam datang bukan untuk menghubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk “Aku” menjadi “Ana”, “Sampean” jadi “Antum”, “Sedulur” jadi “Akhi”….kita pertahankan milik kita, kita, serap ajarannya, bukan budaya Arabnya”(K.H. Abdurrahman Wahid).
Bagi sebahagian orang mengatakan ungkapan dari K.H Abdurrahman Wahid diatas adalah sebuah kritik atas Arabisasi yang terjadi di Indonesia. Islam bagi pemahaman orang-orang NU (Nahdatul Ulama) sebagai pencetus Islam Nusantara memiliki alasan tersendiri mengapa sampai muncul istilah demikian. Keyakinan tiap muslim terhadap Islam memang sama tetapi kepercayaan Islamnya yang berbeda, perbedaan mazhab hingga perbedaan cara pandang (Fiqih) dalam melihat suatu permasalahan menjadi hal yang paling mendasar dalam menentukan sikap dan sifat guna mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut yang sesuai dengan pemahaman dan kapasitas keilmuan dari para ulama-ulama.
Islam Nusantara sendiri memiliki corak dan kekhasan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh Islam di negara lain seperti Tahlilan dan Yasinan ketika ada keluarga atau kerabat yang meninggal sehingga dibacakan ayat-ayat suci yang diperuntukkan untuk almarhum hingga tradisi yang berbau seni seperti gambus.
Tradisi adalah sesuatu yang terjadi berulang-ulang dengan disengaja dan bukan secara kebetulan. Melanggar tradisi masyarakat merupakan hal yang tidak baik selama tradisi tersebut tidak melanggar dari syariat agama (Aep Saifuddin Chalim, dkk, 2012 Hal. 177-178). Berikut akan dijelaskan bebrapa tradisi atau kebiasaan Islam di Nusantara :
1.       Ziarah Ke Makam
Ziarah adalah kegiatan mengunjungi makam. Ziarah berkembang bersama dengan tradisi lain. Di Jawa, misalnya pengunjung di sebuah makam melaksankan ziarah dengan cara melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut adalah membaca Al Quran atau kalimat syahadat dan berdoa.
2.       Tahlilan
Tahlilan adalah upacara kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca surat Yasin dan beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil (laailaaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah). Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT (tasyakuran) dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1000 dan khaul (tahunan). Tradisi ini berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu dan Budha yaitu kenduri, selamatan dan sesaji. Dalam agama islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena mengandung unsur kemusyrikan. Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat atau laut pauk yang bisa dibawa pulang oleh para peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah Sunan Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut karena harus meninggalkan tradisi mereka sehingga mereka kembali ke agamanya.
3.       Maulid Nabi SAW
Setiap bulan Rabiul Awal tiba mayoritas kaum muslimin di nusantara mengadakan perayaan maulid Nabi. Dalam acara tersebut biasanya dibacakan sirah dan biografi kehidupan nabi Muhammad SAW mulai kelahiran hingga wafatnya.
Sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Cikoang Kab. Takalar Provinsi Sulawesi Selatan ada yang di sebut dengan maudu lompoa yang merupakan perpaduan dari unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di Bulan Rabiul Awal berdasarkan Kalender Hijriyah. Pada hari H masyarakat Cikoang yang berpakaian adat berjalan beriringan sambil membawakan anyaman dan memikul julung-julung terhias indah dengan kertas male. Julung-julung diperebutkan berisi telur hias, ayam, beras dimasak setengah matang, beras ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya. Agar lebih indah, julung-julung dilengkapi dengan kibaran kain khas Sulawesi warna-warni bak bendera terpasang di atas perahu. Julung-julung diletakkan di depan semua orang.
Sebenarnya masih banyak lagi tradisi-tradisi Islam yang berada di Nusantara hanya saja karena keterbatasan yang tidak bisa kami jelaskan satu persatu. Tetapi dengan adanya beberapa contoh diatas dapat membuktikan dan dapat menjadi bahan nalaran kita untuk melihat secara nyata tentang tradisi-tradisi Islam yang terjadi di Nusantara.

C.   Kesimpulan
Kemunculan istilah Islam Nusantara memang menjadikan sebuah persepsi bahwa Islam Nusantara adalah model Islam ala Indonesia sebagai penolakan atas Arabisasi yang terjadi bukan hanya di Indonesia secara umum tetapi mencakup hampir di seluruh belahan dunia ini. Namun bukan hanya sekedar penolakan Arabisasi atau ingin menunjukkan eksistensi Islam di negara ini tetapi bagaimana Islam dimata dunia memiliki pengaruh yang besar untuk membuat sebuah peradaban yang besar yang dimulai dari diri sendiri (Nusantara).
Kita ketahui bahwa terdapat 3 (tiga) teori besar yang mengikhtisarkan masuknya Islam di Nusantra yaitu teori Gujarat (India), Teori Makkah dan Teori Persia. Dari ketiga teori tersebut membuat proses akulturasi terjadi di Indonesia dengan perlahan namun pasti, ini terbukti masuknya Islam di Nusantara yang melalui jalur perdagangan, jalur perkawinan, jalur pendidikan hingga sampai kepada jalur kesenian yang masing-masing memiliki cara dan karakteristik yang berbeda dalam menyebarkan sekaligus mesyiarkan Islam di Nusantara sejak awal abad masehi.
Dari beberapa proses masuknya Islam di Nusantara, proses perdagangan dan proses perkawinan adalah hal yang dianggap paling berpengaruh dalam penyebaran agama Islam. Kita ketahui bahwa para pedagang yang datang ke Nusantara bukan hanya sekedar berdagang menawarkan barang dagangannya tetapi ada misi yang dijalankan yakni menyebaran agama Islam yang kemudian para pedagang ini telah lama berdagang dan akhirnya menikah dengan orang pribumi dan menghasilakan keturunan yang secara otomatis akan mengikut kepada kedua orang tuanya yang juga beragama Islam, bukan sekedar sebagai sebuah identitas yang melekat pada anak tersebut tetapi bagaimana menanamkan aqidah yang mantap serta dapat diamalkan yang berguna bagi dirinya, keluarganya, dan bangsanya sendiri. Islam Nusantara dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi. Islam nusantara tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas Islam di Nusantara tetapi bagaimana menjalin sebuah tali ukhuwah islamiah antar umat Islam secara khusus dan Non Muslin secara umum. Dibalik itu semua terdapat juga beberapa tradisi-tradisi yang dapat menjadi ciri khas Islam di Nusantara yang tentunya tidak terlepas dari proses akulturasi antara Budaya Arab, Hindu, Budha dan Islam itu sendiri yang terjadi di Nusantara seperti berziarah ke makam, tahlinan, maulitan Nabi SAW sampai kepada hal-hal yang berbau seni seperti gambus dan wayang. Semoga dengan hadinya Islam Nusantara ini akan membuat pemahaman Islam di masyarakat dapat diterima dan dijadikan sebagai sebuah identitas tetapi juga diamalkan sesuai dengan syariat agama yang berlaku, tidak menantang apalagi mau mengubah-ubah dengan sesuka hati apa yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Hadits tanpa ada alasan yang memuat. Islam, Kristen Hindu, Budha, Konghucu dan agama lokal lainnya sama-sama mengajarkan kebaikan, jika ada agama yang mengajarkan kemungkaran dan kemunafikan itu bukanlah agama tetapi itu adalah setan.