TAN MALAKA
Tan malaka adalah teladan tokoh
revolusioner kiri yang militant, radikal, dan revolusioner. Namun sayang nama
dan perannya dalam kemerdekaan Indonesia sengaja di kaburkan dan di hilangkan
oleh rezim Orde Baru dari catatan sejarah dan album pahlawan nasional. Padahal
segudang ide-ide dan pemikirannya yang revolusioner telah berperan besar dalam
mengantarkan bangsa ini menutup penjajahan di bumi pertiwi.
Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir
di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barata pada Juni 1897. Tan Malaka beruntung
menjadi anak seorang pegawai pertanian Hindia Belanda selangkah lebih maju dari
warga lain. Tak heran jika pada usia 12 tahun dia berkesempatan mengecap
sekolah pendidikan guru yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu di
Sekolah Rajo, Bukittinggi. Sejak usia sekolah itu pula dia menunjukan
kecerdeasaan sebagaimana yang dikatakan guru Belandanya, G.H. Horensma, “Rambutnya
hitam-biru yang bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah memancarkan
sesuatu.”
Tan Malaka lulus pada tahun 1913
pada usia 17 tahun dia melanjutkan studi ke negeri Belanda untuk sekolah di
Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah) di Haarlem. Di negeri
penjajah itu dia menyerap ideologi yang menjadi titik perjuangannya sampai
akhir hayat. Dia bertemu dengan Herman (pemuda pelarian Belgia) dan seorang
Belanda bernama Van Der Mey yang sedikit membuka mata Tan Malaka terhadap
politik. Tan malaka juga mendahului sekolah ke Belanda daripada Mohammad Hatta,
Nazir Datuk Pamoenjtak, Sutan Sjahrir, Abdu Rivai, Asaat, Ibrahim Taher,
Zahrain Zain, dan Abdul Muiz.
Sepak terjang Tan Malaka menjadi
bukti kuatnya semangat perlawanan dari pemuda Minangkabau. Meski terkenal
sebagai wilayah yang kuat menganut islam, siapa sangka justru ideologi kiri
seperti sosialisme dan komunisme bercokol kuat di sana. Bahkan agama islam
menjadi basis persemaian ideology kiri di Minangkabau. Koalisi islam dan
sosialisme/komunisme itu di sokong oleh motif yang sama untuk membebaskan diri
dari kolonialisme. Disini Tan Malaka berperan menghubungkan kedua arus
tersebut.
Di Belanda, watak Tan Malaka
terbentuk seperti membaca, belajar, dan menderita. Tan pun berjuang melawan
sakit bronchitis yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat pada
musim dingin. Memang sulit untuk membayangkan bahwa dalam keadaan serba
terbatas dia melanglang buana membentuk serta membangun ideology dalam
perjalanan panjang dari Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api
trans-siberia melalu gurun es hingga Vladivostok di timur, terus bolak balik ke
Amoy, Shanghai, Manila, Canton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya, dan
Burma dan di kejar oleh bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda
karena dia pemikiran Tan Malaka yang pro komunis dan dianggap sebagai agen
boshelvik, musuh besar negara-negara tersebut.
Yang penting di catat selama periode
pelariannya itu adalah brosur yang di tulis dan di terbitkan di canton pada
1924 yaitu Naar Repoeblik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) dalam
bahasa Belanda dan Melayu yang kemudian di terjemahkan ke bahasa Indonesia.
Ratusan jilid tersebut lantas di selundupkan ke Hindia Belanda dan di terima
oleh para tokoh pergerakaan termasuk Soekarno.
Buku itulah yang menjadi bukti bukti
bahwa Tan Malaka adalah penceetus gagasan Indonesia merdeka jauh sebelum
proklamasi 17 agustus 1945. Dengan Menuju Republik Indonesia maka
untuk pertama kalinya konsep “Republik Indonesia” dicanangkan. Gagasan Tan ini
di sampaikan sembilan tahun sebelum Soekarno menulis Menuju Indonesia
Merdeka (1933). Juga jauh lebih dulu di banding Muhammad Hatta
menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka).
Tan Malaka adalah sosok yang selalu
konsisten dengan apa yang di tulis dan dipikirkannya. Tan Malaka menolak
berunding dengan pemerintahan imperalisme Belanda hanya dengan satu alasan yaitu
Indonesia adalah milik bangsa Indonesia kenapa harus berunding meminta
kemerdekaan pada bangsa lain? Meski untuk itu, seumur hidupnya dia harus
berkelana hidup dari penjara ke penjara.
Namun sayang, ide dan pemikirannya
yang terlalu brilian dan konsisten itu menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Tan Malaka di anggap terlalu radikal dan berpotensi mengancam kestabilan
nasional pada saat itu. Tan Malaka harus menerima kenyataan pahit bahwa
hidupnya harus berakhir di tangan perluru bangsannya sendiri, bangsa yang
selama ini di cita-citakan dan di perjuangkannya selama pengembaraannya di luar
negri sana. Pembungkaman Tan Malaka telah mengakhiri setiap harapan yang pernah
ada bahwa Indonesia akan memilih jalan perjuangan daripada jalan diplomasi.
Tan Malaka menawarkan sebuah jalan
“Merdeka 100 Persen”, tapi itu mustahil terjadi dalam gelombang revolusi yang
dahsyat saat itu. Dan hanya ia sendiri yang tahu betul apa yang harus di
lakukannya untuk mewujudkan cita-citanya itu. Kalau kesuksesan berpolitik di
ukur dari seberapa besar kekuasaan yang di peroleh, bukan di sana tempat Tan
Malaka. Kesuksesan Tan Malaka terletak pada sikap konsisten dalam berpolitik
dan orisinalitas pemikirannya yang berpihak kepada rakyat. Pentingnya ilmu
pengetahuan untuk membangun rakyat, seperti yang di tulisnya dalam madilog dan
beberapa brosurnya yang menganjurkan kemandirian bangsa, menjadi relevan bila
melihat kondisi bangsa kita dewasa ini yang menjadi bangsa yang sangat
konsumstif dan berketergantungan dengan Negara lain.
Tan Malaka tidak hanya bicara,
tetapi dengan bukti. Dia bukanlah pemimpin flamboyan dan gagah di podium,
tetapi dia membangun sekolah rakyat di Semarang, Purwekerto, Bandung,
Yogyakarta, dan Batavia, Selama dua tahun di Jawa sebelum di buang ke Belanda
(1922). Tan konsekuen denagn sikapnya yang tidak memercayai poltik kompromi
(diplomasi) yang di jalankan Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir yang hanya
menguntungkan Belanda. Tan Malaka adalah seorang Nasionalis sejati daripada
seorang Komunis.
COKROAMINOTO
Haji Omar Said Cokroaminoto lahir di Ponorogo 6
Agustus 1882 dan meninggal dunia pada 17 Desember 1934 dan dimakamkan di TMP
Pekuncen, Yogyakarta. Dia dikenal sebagai Ketua Partai Politik Sarekat Islam. Cokroaminoto
giat dalam bidang politik, ia membuat carier politiknya di Sarekat Islam yang
didirikan pada bulan Mei tahun 1912. Sarekat Islam ialah sebuah persatuan
perdagangan di Jawa, Indonesia yang diasaskan pada tahun 1909 di Jakarta oleh
RM Tirtoadisuryo, seorang peniaga dari Kota Surakarta. Pada asalnya dinamai
Sarekat Dagang Islam (SDI), pertubuhan ini bertujuan untuk membantu
peniaga-peniaga kaum bumiputera khususnya dalam industri batik. Selain itu juga
untuk menghadapi persaingan daripada pedagang-pedagang Cina.
Pada bulan September tahun 1912, SDI menggantikan
namanya menjadi Sarekat Islam (SI) dan melantik Umar Said Cokroaminoto sebagai
ketua dan pada bulan Januari 1913 diadakanlah kongres Sarekat Islam yang
pertama. Dalam kongres tersebut, Cokroaminoto menegaskan bahawa Sarekat Islam
bukanlah sebuah parti politik, tetapi bertujuan untuk
·
Meningkatkan
perdagangan di kalangan bangsa Indonesia;
·
Membantu
anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi; dan
·
Mengembangkan kehidupan
keagamaan dalam masyarakat Indonesia.
Kongres Sarekat Islam yang kedua diadakan pada bulan
Oktober 1917 dan diikuti oleh Kongres ketiga antara 29 September hingga 6 Oktober
1918 di Surabaya. Dalam kongres ketiga ini, Cokroaminoto menyatakan bahwa jika
Belanda tidak melakukan reformasi sosial secara besar-besaran maka Sarekat
Islam pada dirinya akan melakukannya di luar parlemen.
Dalam kongres selama 1913–1916 tampaklah kemana SI
dibawa Cokroaminoto, dalam kongres Surabaya 1913 ia dipilih sebagai ketua
Pedoman Besar, meskipun pada waktu itu belum ada organisasi pusatnya. Dalam
kongres Bandung dinyatakan, bahwa untuk mencapai kemerdekaan ditempuh jalan
revolusi, sementara kemudian dalam Kongres Batavia keluar dengan keputusan yang
lebih tegas yaitu jalan parlemen atau revolusioner. Sifat nasional-islam-revolusioner
itu lebih jelas lagi tampak waktu Central Sarikat Islam 1916 menyatakan akan
berjuang melawan kapitalisme sebagai yang pada program perjuangan kongres
nasional 1817.
Haji Umar Said Cokroaminoto bukan hanya aktifis
politik, melainkan juga pemikir. Pemimpin Sarekat Islam (SI) ini menulis buku
Islam dan Sosialisme (1925), juga Tarich Islam (1931). Cokroaminoto bahkan
layak disebut sebagai guru bangsa, sejenis hulu sungai bagi kepemimpinan
politik di Indonesia. Orang mencatat bahwa Sukarno dari kalangan nasionalis
yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), Semaun dari kalangan sosialis
yang mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Kartosuwiryo dari kalangan
Islam yang mendirikan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Bung Karno
bahkan pernah jadi menantunya pula. Karena perannya begitu penting, dulu
Cokroaminoto konon sering diledek oleh lawan-lawan politiknya sebagai “De
Ongekroonde koning van Indie” (Raja Hindia tanpa Mahkota) atau “De aanstaande
koning der Javanen” (Raja Jawa masa depan).
Buku Islam dan Sosialisme, merupakan salah satu buku
penting karya cendekiawan Indonesia dari para pertama abad ke-20. Cokroaminoto
menulis buku ini dalam bahasa Indonesia pada 1924 kira-kira empat tahun sebelum
Sumpah Pemuda antara lain menyerukan pemakaian bahasa Indonesia. Sempat pula
buku ini dicetak ulang antara lain pada 1950 dan 1962. Dalam buku ini,
Cokroaminoto menggali “anasir-anasir sosialisme” dari khazanah Islam, baik dari
sumber teologisnya maupun dari pengalaman historisnya. Pada dasarnya ia
menekankan bahwa sosialisme sudah terkandung dalam hakikat ajaran Islam dan
sosialisme yang ideal harus diarahkan oleh keyakinan agama (Islam). Itulah yang
dia sebut “Sosialisme cara Islam” dan yang ia yakini cocok untuk Indonesia.
Ir.
SOEKARNO
Ir. Soekarno atau yang biasa dipanggil Bung Karno yang
lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden
Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayah Soekarno adalah seorang
guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar
Pribumi Singaraja, Bali.
Soekarno hanya menghabiskan sedikit masa kecilnya
dengan orangtuanya hingga akhirnya dia tinggal bersama kakeknya, Raden
Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Soekarno pertama kali bersekolah di
Tulung Agung hingga akhirnya dia ikut kedua orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di
Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School. Di tahun 1911,
Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya
diterima di Hoogere Burger School (HBS). Setelah lulus pada tahun 1915,
Soekarno melanjutkan pendidikannya di HBS, Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya,
Soekarno banyak bertemu dengan para tokoh dari Sarekat Islam, organisasi yang
kala itu dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang juga memberi tumpangan ketika
Soekarno tinggal di Surabaya.
Dari sinilah, rasa nasionalisme dari dalam diri
Soekarno terus menggelora. Di tahun berikutnya, Soekarno mulai aktif dalam
kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari
Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian Soekarno ganti menjadi Jong Java
(Pemuda Jawa) pada 1918.
Di tahun 1920 seusai tamat dari HBS, Soekarno
melanjutkan studinya ke Technische Hoge School (sekarang berganti nama
menjadi Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik
sipil. Saat bersekolah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi
yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Melalui
Haji Sanusi, Soekarno berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto
Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi
National Indische Partij.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie
Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische Studie Club (dipimpin oleh
Dr Soetomo). Algemene Studie Club merupakan cikal bakal berdirinya Partai
Nasional Indonesia pada tahun 1927. Bulan Desember 1929, Soekarno ditangkap
oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di PNI. Pada
tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Dari dalam penjara
inilah, Soekarno membuat pledoi yang fenomenal, Indonesia Menggugat.
Soekarno dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931.
Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo),
yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap oleh Belanda pada
bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Karena jauhnya tempat pengasingan,
Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional lainnya.
Namun semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat
dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.
Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.
Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu
memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia hingga akhirnya sekitar tahun
1943 Jepang menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai
memanfaatkan tokoh pergerakan Indonesia dimana salah satunya adalah Soekarno
untuk menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang. Akhirnya
tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang
untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang tetap melakukan
gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap
Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan
Indonesia di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar
pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Pada
akhirnya Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional lainnya mulai mempersiapkan diri
menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sidang yang
diadakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
panitia kecil untuk upacara proklamasi yang terdiri dari delapan orang resmi
dibentuk.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memplokamirkan
kemerdekaannya. Teks proklamasi secara langsung dibacakan oleh Soekarno yang
semenjak pagi telah memenuhi halaman rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56,
Jakarta.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad
Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik
Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan Presiden Soekarno dan
Wakil Presiden Mohammad Hatta dikukuhkan oleh KNIP.
MOHAMMAD HATTA
Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus
1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang
kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai
pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris,
aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang
wakil presiden pertama di Indonesia.
Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih
menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916.
Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri
berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta
melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta
menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar
tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi
tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar namun segera
berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische
Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung
dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan
Indonesia (PI).
Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di
jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada
tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato
inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan
Kekuasaan". Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia
yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta
berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan
yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik
rakyat Indonesia.
Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi
Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada
tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama
Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun
1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di
Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru. Aktivitas
politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda
bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid
Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato
pembelaan berjudul: Indonesia Free.
Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke
Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia
yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan
adanya pelatihan-pelatihan. Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende,
Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai
pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah
kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional
Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya
diasingkan ke Digul, Papua. Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis
di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta
untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935
saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir
dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi
pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.
Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir
dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah
kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir
dibawa ke Jakarta. Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil
Ketua. Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang
hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut
merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda
tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur
56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan
Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus
1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai
Wakil Presiden.
Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor
sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah
Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan
Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan
Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun,
kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.
Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan
menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat
membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar
dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia
memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke
Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman. Perjuangan
rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana
memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta. Setelah
kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan
ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis
berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang
dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio
mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat
menjadi Bapak Koperasi Indonesia.
Hatta menikah dengan Rachim Rahmi pada tanggal 18
November 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut
dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.
Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr.
Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar,
Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi "Bintang Republik
Indonesia Kelas I" yang diberikan oleh Presiden Soeharto.
SUTAN SYAHRIR
Sjahrir adalah satu dari Tujuh Begawan Revolusi Indonesia.
Ketujuh orang ini yaitu, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka,
Sudirman, dan A.H. Nasution. Dalam kadar berbeda menentukan arah dan produk
revolusi. Republik Indonesia pada zaman revolusi, dengan demikian bukan
merupakan akibat dari proses sosial yang impersonal dan tak terhentikan
melainkan hasil interaksi ribuan orang dan organisasi, kelompok angkatan
bersenjata dan badan perjuangan, politikus nasional dan lokal, idealisme dan
oportunisme, patriotisme dan banditisme, pahlawan dan pengecut. Semua ingar-bingar
itu berakhir dengan ajaib, pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada
Desember 1949.
Ketujuh pemimpin ini dengan
caranya masing-masing berkontribusi bagi jalannya revolusi. Setelah revolusi,
mereka mengalami peruntungan berbeda, aliansi berbeda, dan perimbangan kekuatan
berbeda.
Dalam sejarah Indonesia,
Sutan Sjahrir adalah eksponen utama garis ideologis yang dapat disebut
perpaduan antara tradisi sosial demokrasi dan liberalisme. Sebagai sosial
demokrat, ia merupakan tokoh gerakan buruh yang andal pada 1930-an, dan menaruh
perhatian amat besar terhadap masalah pendidikan rakyat. Liberalismenya
terlihat antara lain dalam perhatiannya yang besar pula terhadap masalah
perlindungan hak-hak individu dari tirani negara. Tak mengherankan bila ia
menjadi musuh besar fasisme, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.
Tidaklah mengejutkan bahwa
ideologi yang diperjuangkan Sutan Sjahrir mengalami rintangan pada masa
Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru yang otoriter. Tetapi, Indonesia sekarang
adalah negara demokrasi, bahkan negara demokrasi yang paling tegak di seluruh
Asia Tenggara mengingat beberapa perkembangan anti-demokratis di Filipina, dan
terutama Thailand, belakangan ini. Sebagai negara demokrasi, barangkali kita
berharap menemukan para ahli waris garis ideologi yang diperjuangkan oleh Sutan
Sjahrir di antara berbagai kekuatan politik yang sekarang bersaing secara bebas
dan terbuka untuk memimpin Indonesia.
M. Chatib Basri menyatakan
:” Sutan Sjahrir seperti sebuah kekecualian bagi zamannya. Mungkin ia terlalu
di depan bagi masanya. Ketika nasionalisme adalah tungku yang memanggang
anak-anak muda dalam elan kemerdekaan, Sjahrir justru datang dengan sesuatu
yang mendinginkan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional tidak final. Tujuan akhir
dari perjuangan politiknya adalah terbukanya ruang bagi rakyat untuk merealisasi
dirinya, untuk memunculkan bakatnya dalam kebebasan. Tanpa halangan. Bagi
Sjahrir, kemerdekaan adalah sebuah jalan menuju cita-cita itu. Itu sebabnya
Sjahrir menganggap nasionalisme harus tunduk kepada kepentingan demokrasi.”
Dalam sebuah esai yang
penting Sjahrir menuntut agar demi perjuangan, seseorang harus bebas dari
perasaan-perasaan yang menghalangi orang berpikir jujur sesuai dengan kebutuhan
perjuangan. Pikiran dan tindakan hendaknya “tidak dikuasai oleh unsur
psikologis, melainkan oleh hukum akal budi dan otak yang sanggup berpikir dan
bertindak menurut keadaan dan perubahan”. Tampaknya ada dialektik antara
Sjahrir dan kebudayaan masyarakatnya, dan tuntutan Sjahrir mungkin hanya
separuh benar. Dia lupa bahwa akal harus memperhatikan perasaan, rasio perlu
menimbang psikologi, dan logika bertugas menerangi yang irasional. Kalau tidak,
dialektik itu akan menelan korban, dan, tragisnya, korban itu tak lain dari
diri Sjahrir sendiri, dengan meninggalkan sosial-demokrasi bagaikan yatim
piatu.
SOEHARTO
Jend.
Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden kedua Republik
Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya
bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam
pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah. Soeharto masuk sekolah
tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Sampai akhirnya terpilih
menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun
1941.
Dia
resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto
menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran. Pernikahan
Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo.
Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam
putra dan putrid yakni Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang
Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang
Adiningsih. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer
dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan
tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan
komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.
Pada
tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta
dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal
Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala
(pembebasan Irian Barat). Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto
mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad,
Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan
Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden
Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan
ajaran-ajaran Pemimpin besar revolusi Bung Karno. Karena situasi politik yang
memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967,
menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua,
Maret 1968.
Pak
Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia
mengundurkan diri, 21 Mei 1998. Namun, akhirnya dia harus meletakkan jabatan
secara tragis, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa pada 1998,
melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS
dan Ambisius tanpa fatsoen politik. Ayah lima anak ini pun menunjukkan
ketabahan dan keteguhannya. Dia akhirnya sempat diadili dengan tuduhan korupsi,
penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang didirikannya. Soeharto menyatakan
bersedia mempertanggungjawabkan dana yayasan itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang
menyebabkan proses peradilannya dihentikan. Tapi tidak semua mantan menterinya
tega mengkhianati, tidak mempunyai moral politik. Ada beberapa yang justru
makin dekat dengannya secara pribadi setelah bukan lagi berkuasa. Selama masa
jabatannya, dia menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan
(stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat mendapat penghargaan
dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985. Maka, dia
mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional. Soeharto wafat pada
pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Dia meninggal dalam usia 87 tahun
setelah dirawat selama 24 hari, sejak 4 sampai 27 Januari 2008 di Rumah Sakit
Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Berita wafatnya Soeharto pertama kali
diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta.
Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang
wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP
Jakarta akibat kegagalan multi organ.
B.J HABIBIE
Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf
Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare
(Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3
Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie
merupakan keturunan antara orang Jawa (ibunya) dengan orang Makasar/Pare-Pare
(ayahnya).
Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie
sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah
lulus, BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg
(1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur
Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada
industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).
Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah
sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie
menjadi “permata” di negeri Jerman dan iapun mendapat “kedudukan terhormat”,
baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman. Selama bekerja di
MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori
untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan
Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang
seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.
Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah
air. Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden)
di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978.
Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke
Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di
MBB. Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di
Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada 1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978
hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek)
sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional
dan berbagai jabatan lainnya.
Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran
diri Soeharto akibat salah urus pada masa orde baru, sehingga menimbulkan
maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera
setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.
Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan
dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor
untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan
mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi. Pada era
pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan kokoh bagi
Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat,
perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah.
Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak
disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya
dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi
daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet
dan Yugoslavia.
Setelah ia turun dari jabatannya sebagai presiden, ia
lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Tetapi ketika era
kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat
presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang
didirikannya Habibie Center.
NURCHOLIS
MAJID
Nurcholish
Madjid atau yang populer dipanggil Cak Nur ini merupakan penggagas
pluralisme pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia adalah budayawan
sekaligus cendekiawan muslim milik bangsa. Cak Nur sering mengutarakan
gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial, terutama setelah berkiprah
dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat. Cak
Nur dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar,
Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung
Masyumi. Dari kedua orang tuanya, Cak Nur mewarisi darah intelektualisme
dan aktivisme dua organisasi besar Islam di Indonesia, yaitu Masyumi yang
modernis dan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisionalis.
Mantan
ketua HMI di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam
Negeri Syarief Hidayatullah ini pernah berjasa dalam krisis kepemimpinan
yang dialami bangsa Indonesia pada tahun 1998. Cak Nur adalah orang yang
sering dimintai nasehat oleh Presiden Soeharto mengenai kerusuhan dan
krisis negara. Atas saran Cak Nur, akhirnya Presiden
Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari
permasalahan yang lebih parah.
Pembaharuan
Islam yang dicetuskan pria pendiri pondok pesantren Tebuireng ini sering
mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial, seperti halnya
alm. KH Adurrahman Wahid (Gus Dur). Ide dan gagasan Cak Nur tentang
pluralisme juga tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan
masyarakat Islam Indonesia. Gagasan mantan rektor Universitas Paramadina
ini yang paling kontroversial adalah saat ia mengungkapkan gagasan
"Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan
sejak dicetuskan tahun 1960-an.
Nama
Cak Nur sempat mencuat ketika ia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat
calon presiden di Pemilu 2004. Akan tetapi, keputusannya sebagai capres
independen yang terlalu dini dan menyatakan bersedia mengikuti Konvensi Calon
Presiden Partai Golkar tapi kemudian mengundurkan diri, telah
memerosotkan peluangnya meraih kursi orang nomor satu se-Indonesia itu.
Selain
menjabat sebagai rektor, semasa hidupnya Cak Nur juga aktif menjadi
pembicara dalam seminar internasional Islam di dalam maupun di luar
negeri. Selain itu, ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan
dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa di
antaranya bahkan berbahasa Inggris. Cak Nur meninggal dunia pada 29
Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan
di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena dianggap telah banyak berjasa
kepada negara.
RATNA MEGAWANGI
Jauh sebelum suaminya, Sofyan A. Djalil, menjadi
Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu, nama Ratna
Megawangi, Ph.D, kelahiran Jakarta 24 Agustus 1958, sudah menjadi wacana
perdebatan dan polemik hangat di media massa nasional. Ratna, penulis buku
berjudul “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” tahun
1999, ini sudah produktif menulis buku dan artikel di sejumlah media massa
sejak tahun 1994. Ia aktif membuka wacana tentang anak, keluarga, dan
perempuan. Kehadiran Ratna dianggap banyak pihak selalu bernada antagonistis
terutama oleh pengusung gerakan feminisme bahkan against the stream
bagi mainstream yang sedang berkembang.
Buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang
Relasi Gender” selain bernada antitesa, juga against the stream bagi mainstream
gerakan feminisme yang sedang gencar memperjuangkan kesetaraan gender. Ratna di
situ menyadarkan para pihak bahwa sesungguhnya antara laki-laki dengan
perempuan tidaklah bisa dipersama-ratakan. Secara kodrati, genetika, psikis,
dan fisik keduanya berbeda. Karenanya perbedaan itu haruslah dipelihara menjadi
sebuah perbedaan yang harmoni. Perbedaan yang bisa diperlihatkan dalam
pembawaan peran masing-masing yang saling melengkapi. Ratna dalam bukunya
menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.
Buku yang mulai ditulis tahun 1997 dan selesai persis
seminggu setelah Tragedi Nasional 14 Mei 1998, kemudian diterbitkan tahun 1999
oleh Penerbit Mizan, Bandung, itu memuat berbagai postulat dasar, idiologi,
paradigma, dan contoh-contoh tentang kegagalan ide kesamarataan
lelaki-perempuan di berbagai negara terutama di negara komunis, berikut beragam
pemikiran lain yang memberikan Ratna kesimpulan akhir bahwa lelaki dan
perempuan adalah berbeda. Berbeda sehingga tidak bisa disetarakan secara
kuantitatif fifty-fifty. Di Singapura, Korea, atau Jepang, demikian
pula di negara-negara maju keterwakilan perempuan di lembaga parlemen sekitar
10% saja. Di Indonesia diperjuangkan jauh lebih liberal harus 30% perempuan di
DPR, walau yang bisa dicapai masih belasan persen. Ratna menawarkan sudut
pandang baru tentang relasi gender.
Pasca kejatuhan rejim Orde Baru, Ratna Megawangi
merasa lega sebab ajaran Karl Marx yang ada dalam bukunya, sesuatu yang bisa
dicap sebagai tindakan makar dan merongrong ideologi Pancasila pada masa
sebelum itu, menjadi lolos sensor alias terbit tanpa harus melalui sensor. Ratna
sadar berdasarkan pengalamannya sebagai dosen ilmu filsafat untuk mahasiswa S-2
di IPB Bogor, ide-ide Karl Marx yang ditulisnya bisa membuat seseorang menjadi
Marxis sejati, atau di sisi lain malah menjadi sangat konservatif.
Sudut pandang baru tentang relasi gender yang
ditawarkan Ratna melawan arus besar justru pada saat kesetaraan sedang
digaungkan oleh para penggagas gerakan feminisme. Seketika hadir buku itu
segera menjadi bahan polemik berkepanjangan di media massa. Bahkan tak kurang
14 kali Ratna harus hadir langsung di acara bedah buku di beragam komunitas.
Tak heran jika buku itu menjadi buku laris atau best seller yang
mengalami cetak ulang hingga tiga kali, bahkan bersiap-siap untuk dicetak
keempat kalinya.
Selain best seller buku yang penulisannya
diinspirasikan oleh buku “The Tao of Islam” karangan Sachico Murata
dari Jepang, di mana Ratna menjadi editor edisi terjemahan bahasa Indonesia
berjudul sama “The Tao of Islam” diterbitkan oleh Mizan, Bandung tahun
1996, itu menjadi bahan bahan tesis seorang mahasiswi asing asal Sydney,
Australia yang pernah bermukim dan magang di UGM Yogyakarta.
Mahasiswi asing yang pandai berbahasa Indonesia itu
berhasil mendapatkan buku karangan Ratna Megawangi, lalu membuat tesis khusus
tentang buku dengan judul “A Textual Analisys of Membiarkan Berbeda”.
Mahasiswi perguruan tinggi The Australian National University itu berpendapat,
buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” adalah
satu-satunya buku yang pernah ia baca yang memberikan solusi terhadap relasi
gender yang lebih harmonis. “Karena memang, di buku itu bab terakhir saya
tawarkan solusinya, tak sekadar antagonisme. Tapi, solusinya bagaimana
keharmonisan dalam keluarga bisa dibentuk melalui keharmonisan relasi jender,”
kata Ratna Megawangi, di rumahnya yang asri kawasan Harjamukti, Cimanggis,
Depok. Sebelum menulis buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang
Relasi Gender”, Ratna sudah sejak lama berani membuka wacana dan polemik
tentang masalah anak, keluarga, dan terutama perempuan atau masalah feminisme
di harian Kompas, semenjak tahun 1994 atau persis sepulang dari studi S-3 di
Amerika Serikat tahun 1993.
BUYA HAMKA
Kegiatan politik Buya Hamka bermula pada tahun 1925
ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945,
beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia
melalui pidato
dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA
diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.
Pada tahun 1955 beliau masuk Konstituante melalui
partai Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa
inilah pemikiran Hamka sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu.
Misalnya, ketika partai-partai beraliran nasionalis dan komunis menghendaki
Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di Konstituante, Hamka
menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat tentang
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub
dalam Piagam Jakarta. Namun, pemikiran Hamka ditentang keras oleh sebagian
besar anggota Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya
bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Masyumi
kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Meski begitu, Hamka
tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno. Ketika Sukarno wafat, justru
Hamka yang menjadi imam salatnya. Banyak suara-suara dari rekan sejawat yang
mempertanyakan sikap Hamka. “Ada yang mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga
tak perlu disalatkan, namun HAMKA tidak peduli. Bagi Hamka, apa yang
dilakukannya atas dasar hubungan persahabatan. Apalagi, di mata Hamka, Sukarno
adalah seorang muslim.
Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan
oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro-Malaysia.
Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya
ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota
Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji
Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.
Pada tahun 1978, Hamka lagi-lagi berbeda pandangan
dengan pemerintah. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya
sudah menjadi kebiasaan.
Idealisme Hamka kembali diuji ketika tahun 1980
Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang
melarang perayaan Natal bersama. Sebagai Ketua MUI, Hamka langsung menolak
keinginan itu. Sikap keras Hamka kemudian ditanggapi Alamsyah dengan rencana
pengunduran diri dari jabatannya. Mendengar niat itu, Hamka lantas meminta
Alamsyah untuk mengurungkannya. Pada saat itu pula Hamka memutuskan mundur
sebagai Ketua MUI.
MOHAMMAD NATSIR
Mohammad
Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli
1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Ia adalah perdana menteri kelima
Republik Indonesia. Ia juga pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi
dan salah seorang tokoh Islam terkemuka di Indonesia.
Pada
masa kecilnya Natsir belajar di HIS Solok dan di sekolah agama Islam yang
dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Selanjutnya pada tahun 1923-1927 Natsir
mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung
hingga tamat pada tahun 1930.
Pada
saat di Bandung, Natsir berinteraksi dengan para aktivis pergerakan nasional
antara lain Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem dan Sutan Syahrir. Pada
tahun 1932, Natsir berguru pada Ahmad Hassan untuk memperdalam ilmu
keagamaannya. Dengan keunggulan ilmu spiritualnya, ia banyak menulis soal-soal
agama, kebudayaan, dan pendidikan.
Natsir
juga dikenal sebagai pribadi yang aktif. Ia memiliki banyak pengalaman
organisasi seperti menjadi Wakil Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat),
menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress),
ketua Dewan Masjid se-Dunia, serta anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy
yang berpusat di Mekkah, dan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Karir
politik Natsir dimulai ketika pada tanggal 5 April 1950 Natsir mengajukan mosi
intergral dalam sidang pleno parlemen, di mana mosi ini berhasil memulihkan
keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan RI (NKRI). Karena prestasi
inilah Natsir diangkat menjadi perdana menteri oleh Bung Karno. Presiden RI ini
menganggap Natsir mempunyai konsep untuk menyelamatkan Republik melalui
konstitusi.
Namun
posisinya sebagai Perdana menteri tidak berlangsung lama. Ia mendapat penolakan
dan perlawanan dari Partai Nasional Indonesia. Terhitung dua kali anggota
Partai Nasional Indonesia di parlemen memboikot sidang sehingga tak memenuhi
kuorum. Akhirnya Natsir mengembalikan mandat sebagai perdana menteri.
Secara
kepribadian, pria yang banyak berjasa untuk perkembangan dakwah Islam dikenal sebagai
pribadi yang berbicara penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut
meskipun terhadap lawan-lawan politiknya. Ia juga sangat bersahaja dan
kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya.
Mohammad Natsir meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada usia 84 tahun.
YUDI LATIF
Yudi
Latif lahir di Sukabumi, 26 Agustus 1964. Beliau pernah mondok di
Pesantren Modern Gontor Ponorogo, beliau menamatkan pendidikan S1 di
Universitas Padjajaran bidang Komunikasi, S2 di Australian National University
bidang Sosial Politik, dan S3 di Australian National University bidang Sosial
Politik dan Komunikasi. Berbagai prestasi telah diraih sejak dibangku sekolah
hingga mencapai gelar doktoralnya baik akademik maupun non-akademik. Disertasi
doktoralnya tentang “Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia” memberikan
terobosan baru dalam studi sosiologi dan sejarah intelektualisme Islam hingga
memperoleh banyak pujian.
Karier penelitiannya dimulai ketika
bergabung dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 1993.
Sejak saat itu, beliau menjadi penyusun awal rancangan pendirian Universitas
Paramadina (1996), tempat ia mendirikan berbagai pusat studi dan sempat menjadi
wakil rektor dalam urusan penelitian, kemahasiswaan dan pengabdian masyarakat
(2004-2007).
Dibidang non –akademik, beliau
merupakan penulis yang telah melahirkan karya-karya hebatnya. Beliau telah
menerbitkan belasan buku, menulis diberbagai media, mengkaji rubrik tetap di
beberapa surat kabar dan majalah, seperti rubrik analisis politik di harian
Kompas. Beliau juga menjadi pembicara di berbagai forum nasional dan
internasional, dan juga sering menjadi komentator di berbagai acara televisi
dan radio. Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi dan lembaga sosial yang
memperjuangkan keadilan sosial dan multikulturalisme.
Salah satu buku beliau yang
fenomenal adalah buku ”Negara
Paripurna (Historitas,
Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila)” yang diluncurkan pertama
kali di Ruang Rapat Komisi DPR V pada 2011 lalu. Dalam buku ini dikontruksikan
secara lengkap catatan sidang BPUPKI dan persidangan lainnya ketika merumuskan
pemikiran untuk menyusun konstitisi. Dengan pemahaman lebih mendalam, buku ini
pula memiliki sentuhan intelektualitas yang kaya, serta bahasa yang hidup yang
membuat Negara PAripurna ini berharga bagi siapa pun yang peduli terhadap
bangsa ini.
Dengan lahirnya buku ini juga
berdampak pada Yudi Latif sendiri. Apresiasi publik terhadap buku ini
mengantarkan Yudi Latif sebagai penerima beberapa penghargaan, antara lain IFI
(Islamic Fair of Indonesia) Award pada Desember 2011 untuk kategori
Intelektual Muda Paling Berpengaruh; penghargaan sebagai Ikon Politik Indonesia
Tahun 2011 dari Majalah Gatra yaitu Nabil (National Building)
Award pada 18 Oktober 2012, dari Yayasan Nabil, sebagai pengakuan atas
perjuangan dan pemikiran dalam menegakkan Pancasila yang memberikan sumbangan
bagi nation building; dan Megawati Soekarnoputri Award, pada 6
Desember 2012, sebagai penghargaan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan
dan pluralisme. Selain itu, beliau juga diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua
Harian Pusat Studi Pancasila, di Universitas Pancasila.