Jumat, 18 Desember 2015

Artikel Mahasiswa Dan Pemerintah



Mahasiswa dan Pemerintah

Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu, berkibarlah bendera merah putihkuku singkirkan benalu di tiangmu. Jangan ragu dan jangan takut tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu, kita bisa, kita mandiri, dan kita selalu satu irama. Tunjukkan bahwa garuda itu bukan burung perkutut.
Seperti itulah syair yang menganalogikan seorang mahasiswa yang selau identik dengan kos, kampus, sampai dengan demonstrasi yang terkadang berakhir dengan bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan.
Tak bisa memang dipungkiri aksi demonstrasi selalu berakhir dengan bentrokan. Jarang kita temui aksi demonstrasi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang ada di Indonesia yang didalamnya terdapat mahasiswa berakhir dengan damai.
Terkadang disetiap diskusi-diskusi yang dilakukan oleh beberapa pihak yang ada di Indonesia mahasiswa selalu dipojokkan, disalahkan, dan terkadang juga diremehkan. Tetapi semua persepsi itu bisa dibantahkan karena mahasiswa lebih memiliki sebuah alasan yang rasional mengapa sampai melakukan hal-hal seperti itu.
Saat ini Indonesia dilanda sebuah krisis, tetapi krisis ini bukan dilahirkan dari perhitungan capital (uang atau modal) ataupun pengaruh naik-turunnya rupiah terhadap dollar. Akan tetapi, krisis yang dimaksud adalah sebuh fenomena-fenomena yang dihadapi oleh pemerintah karena diakibatkan oleh ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah. Salah satu dampak dari ketidak percayaan masyarakat tersebut adalah munculnya apatisme masyarakat dalam proses demokratisasi di Indonesia. Krisis ketidak percayaan masyarakat yang dialami oleh pemerintah ini diakibatkan oleh perilaku koruptif.
Mahasiswa adalah bagian dari rakyat sedangkan rakyat belum tentu bagian dari mahasiswa. Mahasiswa mati-matian membela rakyat karena itu tadi mahasiswa adalah bagian dari rakyat.
Bagi sebahagian rakyat Indonesia sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah karena antara pembagian kekuasaan dan pemisahan kekuasaan sangat sulit untuk dilakukan di Indonesia. Rakyat Indonesia seakan hanya dijadikan obyek pemuas elit-elit politik dibirokrasi, legislative maupun partai-partai politik. Makanya, mahasiswa haruslah terus berjuang mengawal jalannya roda pemerintahan, kritik apa yang harus dikritisi. Jangan mau tergoda dengan janji manis penguasa negeri ini. Satukan niat, satukan tekad, satukan aksi untuk mencapai keadilan yang autentik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar