Mahasiswa dan Pemerintah
Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di
sayapmu, berkibarlah bendera merah putihkuku singkirkan benalu di tiangmu.
Jangan ragu dan jangan takut tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu,
kita bisa, kita mandiri, dan kita selalu satu irama. Tunjukkan bahwa garuda itu
bukan burung perkutut.
Seperti itulah syair yang menganalogikan
seorang mahasiswa yang selau identik dengan kos, kampus, sampai dengan
demonstrasi yang terkadang berakhir dengan bentrokan antara mahasiswa dan
aparat keamanan.
Tak bisa memang dipungkiri aksi demonstrasi
selalu berakhir dengan bentrokan. Jarang kita temui aksi demonstrasi yang
dilakukan oleh organisasi-organisasi yang ada di Indonesia yang didalamnya
terdapat mahasiswa berakhir dengan damai.
Terkadang disetiap diskusi-diskusi yang
dilakukan oleh beberapa pihak yang ada di Indonesia mahasiswa selalu
dipojokkan, disalahkan, dan terkadang juga diremehkan. Tetapi semua persepsi
itu bisa dibantahkan karena mahasiswa lebih memiliki sebuah alasan yang
rasional mengapa sampai melakukan hal-hal seperti itu.
Saat ini Indonesia dilanda sebuah krisis,
tetapi krisis ini bukan dilahirkan dari perhitungan capital (uang atau modal)
ataupun pengaruh naik-turunnya rupiah terhadap dollar. Akan tetapi, krisis yang
dimaksud adalah sebuh fenomena-fenomena yang dihadapi oleh pemerintah karena
diakibatkan oleh ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah. Salah satu
dampak dari ketidak percayaan masyarakat tersebut adalah munculnya apatisme
masyarakat dalam proses demokratisasi di Indonesia. Krisis ketidak percayaan
masyarakat yang dialami oleh pemerintah ini diakibatkan oleh perilaku koruptif.
Mahasiswa adalah bagian dari rakyat sedangkan
rakyat belum tentu bagian dari mahasiswa. Mahasiswa mati-matian membela rakyat
karena itu tadi mahasiswa adalah bagian dari rakyat.
Bagi sebahagian rakyat Indonesia sudah tidak
percaya lagi dengan pemerintah karena antara pembagian kekuasaan dan pemisahan
kekuasaan sangat sulit untuk dilakukan di Indonesia. Rakyat Indonesia seakan
hanya dijadikan obyek pemuas elit-elit politik dibirokrasi, legislative maupun
partai-partai politik. Makanya, mahasiswa haruslah terus berjuang mengawal
jalannya roda pemerintahan, kritik apa yang harus dikritisi. Jangan mau tergoda
dengan janji manis penguasa negeri ini. Satukan niat, satukan tekad, satukan
aksi untuk mencapai keadilan yang autentik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar