Politikus
Dan
Poli
Tikus
Sudah tidak
asing lagi dan sudah tidak heran lagi ketika mendengar kata Politikus. Banyak
orang yang mendefinisikan kata politikus. Tetapi menurut situs wikipedia.com
Politikus (Jamak; Politis) adalah seseorang yang terlibat dalam politik dan
terkadang juga masuk para ahli politik.
Sedangkan
kata Poli-‘Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bentuk terikat banyak dan
Tikus yang disimbolkan sebagai pencuri dalam dunia politik adalah koruptor
sehingga Poli Tikus diartikan sebagai “Banyak Tikus”.
Memang
politik seakan menjadi ruang tersendiri yang amat besar untuk diperbincangkan.
Politik seakan menjadi media sirkular yang mempertemukan wajah-wajah humanis
dengan panggilan eskatologia dan kontestasi sekular (Bodiou, 2002 : 23)
Etika
politik yang terjun bebas seakan menjadi duka yang mendalam bagi rakyat
Indonesia. Banyak para politikus yang berubah menjadi tikus karna nafsu yang
bertahta pada dirinya dan banyak juga para politikus yang moralitas dalam
berpolitknya sudah berada diliang lahat. Transparasi dan akuntabilitas belum
menjadi prioritas prinsip dalam menjalankan tata kelola pemerintahan.
Mereka
seenaknya menjadikan trayek demokrasi
(Proses otonomi daerah, Politik pemilu (kada), reformasi birokrasi) yang penuh
gonjang-ganjing ini sebagai instrumen utama menguras ‘isi perut’ negara. Dan
dari celah sempit inilah para tikus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat
masuk kedalamnya dan mengambil yang bukan miliknya kemudian lari begitu
cepatnya.
Di negeri
ini demokrasi menjadi halusinasi ketika masyarakat masih dililit kemiskinan,
pendidikan yang rendah dan mengalami penderitaan ekonomi secara strukturatif.
Akibatnya institusi demokrasi seperti konstitusi, pemilu, atau partai poliik
akan dengan mudah jatuh ke tangan penyelaggara kapital (Dahl, 1985).
Partai
politik yang menjadi harapan bagi banyak rakyat yang berfungsi untuk
mentransformasi nilai-nilai dan prinsip politik kepada publik justru terjebak
dalam kesibukan politik pragmatis yang mengejar posisi/kekuasaan.
Untuk
mencari kekuasan dan atau mempertahankan kekuasaan banyak para politikus yang
berusaha menempatkankan ‘orang dekat’ termasuk yang memiliki hubungan darah
sebagai bagian dari inti kekuasaan yang dimiliki. Maka timbullah kecenderungan
politik oligarki di kalangan partai-partai politik dan atau dinasti yang
merambah. Banyak para politikus/ tokoh politik yang memposisikan anggota
keluarganya sebagai bagian dari pengurus partai politik atau mengganti dan
berbagi kekuasaan di lembaga penyelenggara negara. Maka lewat jalan inilah
dapat terindikasi adanya korupsi seperti yang terjadi di Banten.
Sama halnya
dengan rangkap jabatan. Rangkap jabatan bagi sebahagian ahli politik dipandang
tidak etis karena tidak bekonsentrasi dalam bekerja maka timbullah konflik kepentingan.
Tetapi tidak semua politikus memiliki sifat seperti
tikus. Masih ada juga politikus yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi,
mereka siap hidup dalam kesehajaan, kejujuran dan keberanian yang didukung oleh
integritas dan moralitas yang tinggi seperti bapak pers Indonesia Tirto
Adisuryo misalnya.
Tidak mudah
memang menjadi seorang politikus karena yang menjadi teman adalah “masalah”
sehingga politikus dituntut untuk selalu berfikir secara kritis dan mengkaji
agar bias berpisah dari masalah dan bersahabat dengan kesejahteraan bersama
rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar