“ISLAM NUSANTARA”
Latar
Belakang
Peradaban Islam secara harfiah
“kebudayaan” berasal dari kata “budi” dan “daya” ditambahkan awalan “ke” dan
akhiran “an”. Budi berarti akal dan daya berarti kekuatan. Dengan demikian
kebudayaan Islam berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh kekuatan akal
manusia muslim. Sedangkan peradaban berasal dari kata Arab “adab” berarti nilai
tinggi. Dengan demikian peradaban Islam adalah kebudayaan Islam yang bernilai
tinggi (Musyrifah Sunanto, 2015, Hal 3). Peradaban Islam di dunia telah
memberikan pengaruh besar bagi perkembangan suatu negara, begitupun Indonesia
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sejak zaman pra sejarah penduduk
kepulauan Indonesia di kenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi
lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan
antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di Asia Tenggara. Pelabuhan
penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 – ke-7 M sering di singgahi pedagang Asing.
Pedagang-pedagang muslim dari Arab, Persia dan India juga ada sampai ke kepulauan
Indonesia untuk berdagang pada abad ke-7 ketika Islam pertama kali berkembang
di Timur Tengah.
Malaka merupakan pusat lalu - lintas perdagangan dan pelayaran karena
hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok nusantara di bawah di Cina
dan India. Dari berita Cina dapat diketahui bahwa pada masa dinasti Tang orang-orang sudah ada di kantong dan
Sumatra. Perkembangan pelayaran dan perdagangan antara Asia bagian barat dan
timur disebabkan oleh kerajaan Islam di
bawah Bani Umayyah dan kerajaan Cina zaman Dinasti Tang.
Penduduk kepulauan Indonesia masuk Islam bermula dari penduduk pribumi di
koloni pedagang muslim itu. Menjelang abad ke-13, masyarakat muslim sudah ada
di samudra Pasai, Perlak, Palembang di Sumatra. Di Jawa makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik
475 H, sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Di negara Indonesia mengikhtisarkan asal
kedatangan Islam menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam
dipercayai datang dari wilayah Gujarat, India melalui peran para pedagang india muslim pada
sekitar abad ke-13 M. kedua, teori Makkah yaitu Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari timur tengah melalui jasa
para pedagang arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia yakni Islam tiba di Indonesia melalui peran
para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum
ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Melalui kesultanan Tidore yang juga menguasai tanah Papua sejak abad ke-17. Jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai
semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah tiongkok
mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai barat Sumatra.
Dari ketiga teori besar masuknya Islam di Indonesia membuat
adanya akulturasi atau pencampuran budaya antar satu dengan yang lain sehingga
menimbulkan sebuah identitas tersendiri bagi sebuah Negara yang tidak
menghilangkan budaya aslinya yang kita sebut sebagi Islam Nusantara.
Pembahasan
A.
Islam Nusantara
Istilah
Islam Nusantara akhir-akhir ini mengundang banyak perdebatan sejumlah pakar
ilmu-ilmu keislaman. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Alasan penolakan
mungkin adalah karena istilah itu tidak sejalan dengan dengan keyakinan bahwa
Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.
Munculnya istilah Islam
Nusantara merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengacu kepada Islam ala
Indonesia yang otentik langgamnya Nusantara, tapi isi dan liriknya adalah
Islam, bajunya adalah Indonesia. Ide Islam Nusantara ini berkaitan dengan
gagasan “pribumisasi Islam” yang pernah dipopulerkan almarhum KH Abdurrahman
Wahid.
Respon terhadap globalisasi dalam bentuk “Islam Nusantara” adalah
pilihan terbaik dibandingkan dengan penolakan total atau penerimaan total.
Dalam merespon terhadap globalisasi, terutama yang datang dari Barat, beberapa
kelompok agama justru mencari perlindungan dalam homogenitas dan eksklusivitas
kelompoknya. Sepertinya kedamaian itu bisa terjadi dengan menolak keragaman
atau sesuatu yang asing. Di tengah globalisasi, banyak orang yang mencoba
menutup diri dan menghalangi orang yang berbeda hadir di tengah masyarakat.
Fenomena munculnya perumahan atau cluster perumahan eksklusif untuk
komunitas agama tertentu adalah sebagai contoh kecil. Bahkan kuburan/ pemakaman
dan rumah kos pun kadang dibuat untuk pengikut agama tertentu. Respon terhadap
globalisasi yang lebih buruk lagi tentu saja seperti dalam bentuk redikalisme
dan terorisme. Islam Nusantara bisa menjadi respon yang sangat baik terhadap
globalisasi jika ia tidak mengarah kepada parokhialisme dan sektarianisme.
Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam
teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah
Air. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara
yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam
dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kehadiran
Islam tidak untuk merusak atau menantang tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam
datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya yang ada secara tadriji (bertahap). Bisa jadi butuh waktu
puluhan tahun atau beberapa generasi. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi Nusantara
itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren) serta sistem
Kesultanan. Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni
Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya Nusantara.
Pemahaman tentang formulasi Islam Nusantara menjadi
penting untuk memetakan identitas Islam di negeri ini. Islam Nusantara
dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu
dengan kebudayaan Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan
adaptasi. Islam nusantara tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas
Islam di tanah Jawa. Lebih dari itu, Islam Nusantara sebagai manhaj atau model beragama yang harus
senantiasa diperjuangkan untuk masa depan peradaban Indonesia dan dunia. Islam
Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi
terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan
bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam
bukan hanya cocok diterima orang Nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya
Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.
Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam
Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah
karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan
kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara
damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.
Model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke
wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi dan diikuti proses pribumisasi,
sehingga Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya
Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan
alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni
di negeri mana pun, namun tidak harus bernama dan berbentuk seperti Islam
Nusantara karena dalam Islam Nusantara tidak mengenal menusantarakan Islam atau nusantarasasi budaya lain.
Islam nusantara hadir dalam artian memberikan sebuah
pemahaman bahwa Islam nusantara adalah islam yang mengajak bukan menginjak,
islam yang merangkul bukan memukul, islam yang membina bukan menghina, islam
yang memakai hati bukan memaki maki, islam yang mengajak taubat bukan untuk
saling menghujat, dan islam yang memberikan pemahaman bukan islam yang memaksa
pemahaman. Inilah yang menjadi sebuah identitas bagi Islam di Indonesia (Islam
Nusantara),
B. Tradisi
Islam di Nusantara
“Islam datang
bukan untuk menghubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk “Aku”
menjadi “Ana”, “Sampean” jadi “Antum”, “Sedulur” jadi “Akhi”….kita pertahankan
milik kita, kita, serap ajarannya, bukan budaya Arabnya”(K.H. Abdurrahman Wahid).
Bagi sebahagian orang mengatakan ungkapan dari K.H
Abdurrahman Wahid diatas adalah sebuah kritik atas Arabisasi yang terjadi di
Indonesia. Islam bagi pemahaman orang-orang NU (Nahdatul Ulama) sebagai
pencetus Islam Nusantara memiliki alasan tersendiri mengapa sampai muncul
istilah demikian. Keyakinan tiap muslim terhadap Islam memang sama tetapi
kepercayaan Islamnya yang berbeda, perbedaan mazhab hingga perbedaan cara
pandang (Fiqih) dalam melihat suatu permasalahan menjadi hal yang paling
mendasar dalam menentukan sikap dan sifat guna mencari jalan keluar dari
permasalahan tersebut yang sesuai dengan pemahaman dan kapasitas keilmuan dari
para ulama-ulama.
Islam Nusantara sendiri memiliki corak dan kekhasan
tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh Islam di negara lain seperti Tahlilan
dan Yasinan ketika ada keluarga atau kerabat yang meninggal sehingga dibacakan
ayat-ayat suci yang diperuntukkan untuk almarhum hingga tradisi yang berbau
seni seperti gambus.
Tradisi adalah sesuatu yang terjadi berulang-ulang
dengan disengaja dan bukan secara kebetulan. Melanggar tradisi masyarakat
merupakan hal yang tidak baik selama tradisi tersebut tidak melanggar dari
syariat agama (Aep Saifuddin Chalim, dkk, 2012 Hal. 177-178). Berikut akan
dijelaskan bebrapa tradisi atau kebiasaan Islam di Nusantara :
1.
Ziarah Ke Makam
Ziarah
adalah kegiatan mengunjungi makam. Ziarah berkembang bersama dengan
tradisi lain. Di Jawa, misalnya pengunjung di sebuah makam melaksankan
ziarah dengan cara melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut adalah
membaca Al Quran atau kalimat syahadat dan berdoa.
2.
Tahlilan
Tahlilan adalah
upacara kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca surat
Yasin dan beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat
tahlil (laailaaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah).
Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT (tasyakuran)
dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100,
1000 dan khaul (tahunan). Tradisi ini berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu
dan Budha yaitu kenduri, selamatan dan sesaji. Dalam agama islam tradisi ini
tidak dapat dibenarkan karena mengandung unsur kemusyrikan. Dalam tahlilan
sesaji digantikan dengan berkat atau laut pauk yang bisa dibawa pulang oleh
para peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah Sunan Kalijaga dengan
maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut karena harus
meninggalkan tradisi mereka sehingga mereka kembali ke
agamanya.
3.
Maulid Nabi SAW
Setiap bulan Rabiul Awal tiba mayoritas kaum muslimin di
nusantara mengadakan perayaan maulid Nabi. Dalam acara tersebut biasanya
dibacakan sirah dan biografi
kehidupan nabi Muhammad SAW mulai kelahiran hingga wafatnya.
Sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Cikoang Kab.
Takalar Provinsi Sulawesi
Selatan ada yang di sebut dengan maudu lompoa yang merupakan
perpaduan dari unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar
setiap tahun di Bulan Rabiul Awal berdasarkan Kalender Hijriyah. Pada hari H
masyarakat Cikoang yang berpakaian adat berjalan beriringan sambil membawakan
anyaman dan memikul julung-julung terhias indah dengan kertas male. Julung-julung
diperebutkan berisi telur hias, ayam, beras dimasak setengah matang, beras
ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya. Agar lebih indah,
julung-julung dilengkapi dengan kibaran kain khas Sulawesi warna-warni bak
bendera terpasang di atas perahu. Julung-julung diletakkan di depan semua
orang.
Sebenarnya masih
banyak lagi tradisi-tradisi Islam yang berada di Nusantara hanya saja karena
keterbatasan yang tidak bisa kami jelaskan satu persatu. Tetapi dengan adanya
beberapa contoh diatas dapat membuktikan dan dapat menjadi bahan nalaran kita
untuk melihat secara nyata tentang tradisi-tradisi Islam yang terjadi di
Nusantara.
C.
Kesimpulan
Kemunculan
istilah Islam Nusantara memang menjadikan sebuah persepsi bahwa Islam Nusantara
adalah model Islam ala Indonesia sebagai penolakan atas Arabisasi yang terjadi
bukan hanya di Indonesia secara umum tetapi mencakup hampir di seluruh belahan
dunia ini. Namun bukan hanya sekedar penolakan Arabisasi atau ingin menunjukkan
eksistensi Islam di negara ini tetapi bagaimana Islam dimata dunia memiliki
pengaruh yang besar untuk membuat sebuah peradaban yang besar yang dimulai dari
diri sendiri (Nusantara).
Kita ketahui
bahwa terdapat 3 (tiga) teori besar yang mengikhtisarkan masuknya Islam di
Nusantra yaitu teori Gujarat (India), Teori Makkah dan Teori Persia. Dari
ketiga teori tersebut membuat proses akulturasi terjadi di Indonesia dengan perlahan
namun pasti, ini terbukti masuknya Islam di Nusantara yang melalui jalur
perdagangan, jalur perkawinan, jalur pendidikan hingga sampai kepada jalur
kesenian yang masing-masing memiliki cara dan karakteristik yang berbeda dalam
menyebarkan sekaligus mesyiarkan Islam di Nusantara sejak awal abad masehi.
Dari beberapa
proses masuknya Islam di Nusantara, proses perdagangan dan proses perkawinan
adalah hal yang dianggap paling berpengaruh dalam penyebaran agama Islam. Kita
ketahui bahwa para pedagang yang datang ke Nusantara bukan hanya sekedar
berdagang menawarkan barang dagangannya tetapi ada misi yang dijalankan yakni
menyebaran agama Islam yang kemudian para pedagang ini telah lama berdagang dan
akhirnya menikah dengan orang pribumi dan menghasilakan keturunan yang secara
otomatis akan mengikut kepada kedua orang tuanya yang juga beragama Islam,
bukan sekedar sebagai sebuah identitas yang melekat pada anak tersebut tetapi
bagaimana menanamkan aqidah yang mantap serta dapat diamalkan yang berguna bagi
dirinya, keluarganya, dan bangsanya sendiri. Islam Nusantara dimaksudkan sebuah
pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu dengan kebudayaan
Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi. Islam nusantara
tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas Islam di Nusantara tetapi
bagaimana menjalin sebuah tali ukhuwah
islamiah antar umat Islam secara khusus dan Non Muslin secara umum. Dibalik
itu semua terdapat juga beberapa tradisi-tradisi yang dapat menjadi ciri khas
Islam di Nusantara yang tentunya tidak terlepas dari proses akulturasi antara
Budaya Arab, Hindu, Budha dan Islam itu sendiri yang terjadi di Nusantara
seperti berziarah ke makam, tahlinan, maulitan Nabi SAW sampai kepada hal-hal
yang berbau seni seperti gambus dan wayang. Semoga dengan hadinya Islam
Nusantara ini akan membuat pemahaman Islam di masyarakat dapat diterima dan
dijadikan sebagai sebuah identitas tetapi juga diamalkan sesuai dengan syariat
agama yang berlaku, tidak menantang apalagi mau mengubah-ubah dengan sesuka
hati apa yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Hadits tanpa ada alasan yang
memuat. Islam, Kristen Hindu, Budha, Konghucu dan agama lokal lainnya sama-sama
mengajarkan kebaikan, jika ada agama yang mengajarkan kemungkaran dan
kemunafikan itu bukanlah agama tetapi itu adalah setan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar