Bab I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Akhlak merujuk kepada amalan, dan tingkah laku tulus yang
tidak dibuat-buat yang menjadi kebiasaan. Manakala menurut istilah Islam,
akhlak ialah sikap keperibadian manusia terhadap Allah, manusia, diri sendiri
dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Quran
dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini berarti akhlak merujuk kepada seluruh perlakuan
manusia sama ada berbentuk lahiriah maupun batiniah yang merangkumi aspek amal
ibadah, percakapan, perbuatan, pergaulan, komunikasi, kasih sayang dan
sebagainya.
Maqamat dalam Imu Tasawuf berarti
kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakannya.
Disamping itu maqamat berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk
berada sedekat mungkin kepada Allah.[1]
Menurut Al-Ghozali
dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumad-Din, maqamat terdiri dari delapan tingkat, yaitu
taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, ridha dan makrifat.
Ketika kita memfokuskan
pandangan kepada semua amala hati, sebenarnya semua itu adalah dasar dan materi
iman yang mencuat darinya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada maqam yang
paling komperehensif dengan cakupan atas semua ilmu dan amal sebuah hati daripada
Tawakal kepada Allah SWT.
Islam sebagai agama yang
membawa kebenaran dalam perjalan hidup manusia menuai banyak dinamika dalam
pengajarannya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW sebagai pendobrak
dekadensi moral dimuka bumi ini. Sebagai seorang muslim yang selalu bertawak
kepada Allah SWT hendaknya patuh didalam ajaran-ajaran agama Islam.
Tawakkal adalah suatu siakap
mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah,
karena didalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa Allah yang menciptakan
segala-galanya, pengetahuannya maha luas, dia yang menguasai dan mengatur alam
semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorong untuk menyerahkan segala persolan
kepada Allah. Hatinya tenang dan tentram serta tidak ada rasa curiga karena
Allah maha tau dan maha bijaksana.
[2]
Tidak mungkin seorang hamba
tidak membutuhkan tawakal, baik tawakal kepada Allah yang tidak di tangan-nya
kekuasaan atas segala sesuatu, atau tawakal kepada semua makhluk yang lemah
seperti dirinya.
Bagi agama islam Allah adalah pusat pengabdian yang mendasari semua
bentuk kegiatan yang dilakukan oleh ummatnya. Sedangkan dilihat dari kacamata
ilmu pengetahuan, Allah-lah yang merupakan mahkota dari system-sistem yang
mengatur, menguasai, dan mengurusnya. Bahkan ilmu pengetahuan dapat menemukan
arti yang essensiil, disebabkan oleh adanya iman akan kekuasaan dan iradah
Allah yang menguasai ketertiban dan ketetapan di alam semesta ini.
ataukah bertawakal kepada makhluk yang pasti lemah seperti dirinya sehingga Ibnu Abbas menyebutnya sebagai inti iman.
Sedangkan Sa’id jabir mengatakan, “Tawakal adalah separuh dari iman”, sedangkan
Al-Fudhail bin Iyadh menyifatinya, “Tawakal adalah pangkal ibadah”. Jadi seorang muslim itu hendaknya
taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Tuhannya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Pengertian
aqidah Islam?
2.
Dasar-dasar
aqidah Islam?
3.
Keistimewaan
aqidah Islam?
Bab II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Aqidah
Kata
Aqidah berasal dari kata “Al-Aqdu” yang berarti ikatan (ar-rabth), pengesahan
(al-Ibraam), penguatan (al-Ihkam), menjadi kokoh dan kuat (at-Tawatstsuq),
Keyakinan (al-Yaqiin). Secara istilah Aqidah dapat diartikan sebagai keyakinan
hati atas sesuatu. Kata Aqidah tersebut dapat dipegunakan untuk ajaran yang
terdapat dalam Islam dan dapat pula digunakan untuk ajaran diluar Islam
sehingga ada istilah aqidah Islam, aqidah nasrani, ada aqidah yang benar atau
lurus dan ada aqidah yang sesat atau menyimpang[3]
Aqidah
secara bahasa berarti ikatan, secara terminology berarti landasan yang mengikat
yaitu keimanan, itu sebabnya ilmu tauhid disebut dengan ilmu aqaid (aqidah)
yang berarti ilmu mengikat. Dalam ajaran Islam sebagaimana dicantumkan dalam
Qur’an dan Sunnah aqidah merupakan ketentuan-ketentuan dan pediman keimanan[4]. Jadi
kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seseorang secara pasti
adalah aqidah, baik itu benar ataupun salah.
Adapun
yang dimaksud dengan akidah Islam adalah kepercayan yang mantap kepada Allah,
para Malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, qadar baik
dan buruk, serta seluruh muatan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah
berupa pokok-pokok agama, perintah-perintah dan berita beritanya, serta apa
saja yang disepakati oleh generasi Salafush Shalih (Ijma’) dan kepasrahan total
kepada Allah swt dalam hal keputusan hukum, perintah, takdir, maupun syara’,
serta ketundukan kepada Rasulullah SAW dengan cara mematuhi, menerima keputusan
hukumnya dan mengikutinya[5]
Berikut ini pengertian Akidah secara terminologis atau istilah
menurut tokoh-tokoh pergerakan[6] :
A. Menurut Hasan Al-Banna [7]
Dalam kitab
al majmu'ah ar rasail disebutkan sebagai berikut :
اَلعَقـَـائِـدُ هِـيَ الاُمُـوْرُ التيْ يَــجِبُ اَنْ يَـصَّدقَ
بِـــهَا قَلْــبُكَ وَتطْمَـئِنُّ اِلَــيْهَا نَفْسُــكَ وَتَـكُوْنَ يَقِـيْنًا
عِنْـدَكَ لايُـمَازِحُه ُرَيْـبُ وَلا يُـــخَالِـطُهُ شَـــكٌّ
Akidah adalah
beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan
ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan
keragu-raguan.
b. Menurut Abu Bakar Jabir Al Jaziry [8]
اَلْعــَقِيْدَةُ هِيَ
مَجْمُوْعَةٌ مِنْ قَضَايَا اْلحَقِّ اْلبِدَهِيَّةِ المُسَلَّمَةِ بِاْلعَقْلِ
وَالسَّمْعِ وَالفِطْرَةِ يَعْقِدُ عَلَيْــهــَا الانسان قَلبَهَا وَيُثْنِيْ
عَلَيْهَا صَدْرَهُ جَازِمًا بِصِحَّتِهَا قَاطِعًا بِوُجُوْدِهَا وَثُبُوْتِهَا
لا يَرَى خِلافِهَا اَنَّهُ يَصِحَّ اَنْ يَكوُنَ اَبَدًا
Akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat
diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, fitrah dan kebenaran
itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan
keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan
kebenaran itu.
2.
Dasar Akidah Islam[9]
Dasar dari akidah Islam adalah al-Qur’an dan Hadits.
Al-Qur’an dan Hadits/Sunnah Rasul merupakan dua perkara yang diwariskan kepada
umat Islam oleh Nabi Muhamad SAW, untuk dijadikan pedoman hidup umat Islam
dalam kehidupan sehari-hari, dalam segala tingkah laku dan perbuatan.
Adapun penjelasan dari masing-masing dasar aqidah Islam tersebut adalah
sebagai berikut;
a.
Al-Qur’an
Al-Qur'an adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Al-Qur’an merupakan
dasar pokok akidah Islam yang paling utama. Al-Qur’an menjelaskan tentang
segala hal yang ada di alam semesta ini, dari yang jelas sampai hal yang ghaib
termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ajaran pokok tentang keyakinan
dan keimanan. Sedangkan dasar-dasar akidah yang harus diimani oleh setiap
muslim di antaranya QS an-Nisa/4 : 136

Artinya :
“Wahai orang-orang
yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang
Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat
sejauh-jauhnya”. (QS. An- Nisa / 4 :136)
2.
Al-Hadits
Hadits adalah segala ucapan, perbuatan dan takrir (sikap diam)
Nabi Muhammad SAW. Dalam agama Islam, ditegaskan bahwa hadits adalah hukum
Islam kedua setelah Al-Qur'an, baik sebagai sumber hukum dalam akidah
ataupun dalam segala persoalan hidup manusia. Hadits memiliki fungsi
sebagai pedoman yang menjelaskan masalah-masalah yang ditetapkan di dalam
al-Qur’an yang masih bersifat umum.
Setidaknya ada tiga alasan bahwa
Hadits merupakan pedoman akidah Islam, yaitu :
a. 

Hadits yang bersumber dari Nabi Muhamad
SAW, tidaklah semata-mata keluar dari hawa nafsu. Akan tetapi semata-mata
berasal dari wahyu Allah SWT Sebagaimana ditegaskan QS. an-Najm/53 :3-5
Artinya :“Dan tidaklah mengucapkan dari hawa nafsu. Tetapi yang
diucapkan tidak lain hanya dari wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan kepadanya
oleh Jibril yang sangat kuat”. ( QS. An Najm/53 : 3 – 5 ).
Ayat tersebut berisi peringatan keras
kepada orang-orang yang masih meragukan kebenaran Islam yang beliau sampaikan.
Dengan adanya ayat tersebut, manusia diharapkan untuk memercayai dengan sepenuh
hati bahwa apa-apa yang diucapkan oleh Rasulullah SAW benar-benar berasal dari
Allah SWT, bahwa Rasulullah SAW memiliki sifat shidiq (benar).
b.
Allah SWT telah memberi petunjuk
kepada manusia agar mengakui kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW.
Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S.
Al-Hasyr/59: 7 yang artinya:
“…apa yang diberikan
Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras
hukumannya”
Apa-apa yang disampaikan Rasulullah
SAW. kepada manusia adalah petunjuk hidup dari Allah SWT. Termasuk akidah
Islam. Oleh karena itu, setiap orang yang mengaku beriman kepada Rasul wajib
mengikuti akidah yang diajarkan Rasulullah SAW.
c.
Banyak Hadits yang menjelaskan maksud
beberapa ayat Al-qur'an yang masih bersifat global, termasuk masalah akidah
Islam. Contohnya Allah swt berfirman sebagai berikut:
Artinya:
“Sembahlah Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun …”(Q.S. An-Nisa'/4: 36)
Ayat diatas berisi perintah
untuk menyembah Allah saja dan larangan menyekutukan Dia dengan apa pun,
tetapi tidak dijelaskan bagaimana
cara menyembah Allah dan bagaimana pula sikap yang tidak tergolong
mempersekutukan Dia.
Tata cara menyembah Allah dan
bentuk-bentuk perbuatan menyekutukan Allah dapat dipahami melalui hadits Nabi Muhammad
SAW. Oleh sebab itu, hadits dapat memperjelas maksud ayat Al-Qur'an.
Di dalam hadits
disebutkan bahwa bentuk-bentuk menyekutukan Allah, antara lain memuja patung,
minta tolong kepada roh nenek moyang, dan membuat sesaji untuk jin dan setan.
3. Keistimewaan Akidah islam[10]
Menurut Syekh Muhammad Ibrahim
al-Hamd, akidah Islamiyah yang tercermin di dalam akidah Ahlus sunnah wal jama’ah, memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak
dimiliki akidah mana pun. Hal ini tidak mengherankan, karena akidah tersebut
diambil dariw ahyu yang tidak tersentuh kebatilan dari arah mana pun datangnya[11].
Keistimewaan tersebut, antara lain diambil sebagai berikut :
1. Sumber Pengambilannya adalah murni
Hal ini karena akidah
Islam berpegang Pada Al-Qur’an, Ash-Sunnah dan Ijma’ Salafush shalih. Jadi, akidah islam diambil dari sumber yang jernih
dan jauh dari kekurangan hawa nafisu dan syahwat. Keistimewaan ini tidak
dimiliki oleh berbagai madzhab, millah dan ideology lainnya diluar akidah islam[12]
2. Berdiri Diatas Fondasi Penyerahan
Diri Kepada Allah dan Rasulnya
Hal ini karena akidah
bersifat gaib, dan yang gaib tersebut bertumpu pada penyerahan diri. Dus, kaki Islam tidak akan berdiri
tegak, melainkan diatas fondasi penyerahan diri dan kepasrahan. Jadi, iman
kepada yang gaib merupakan salah satu sifat terpenting bagi orang-orang mukmin
yang dipuji oleh Allah swt.
3. Sesuai Dengan Fitrah Yang Lurus
Dan Akal Yang Sehat
Akidah Islam sesuai dengan
fitrah yang sehat dan selaras dengan akal yang murni. Akal murni yang bebas
dari pengaruh syahwat dan syubhat tidak akan bertentangan dengan nash yang
shahih dan bebas dari cacat.
Adapun akidah-akidah
lainnya adalah halusinasi dan asumsi-asumsi yang membutakan fitrah dan
membodohkan akal. Oleh karena itu, jika seseorang bisa melepaskan diri dari
segala macam akidah dan hatinya menjadi menjadi kosong dari kebenaran dan
kebatilan, kemudian ia mengamati semua jenis akidah yang benar maupun yang
salah dengan adil, fair, dan pemahaman yang benar, niscaya ia akan melihat
kebenaran dengan jelas dan mengetahui bahwasanya orang yang menganggap sama
antara akidah yang benar dan yang tidak benar ibarat orang yang menganggap sama
antara malam dan siang[13]
4. Jelas, Mudah, dan Terang
Akidah Islam adalah akidah yang
mudah dan jelas, sejelas matahari ditengah hari. Tidak ada kekaburan,
kerumitan, kerancuan, maupun kebengkokan didalamnya. Karena lafazh-lafazhnya
begitu jelas dan makna-maknanya demikian terang sehingga bisa dipahami oleh
orang berilmu maupun orang awam, anak kecil maupun orang tua. Karena Rasulullah
SAW membawakannya dalam kondisi yang putih bersih tidak ada yang menyimpang
darinya, selain orang yang binasa.
5. Bebas Dari Kerancauan, Paradoks,
Dan Keburukan
Didalam akidah Islam tidak ada
tempat untuk hal-hal semacam itu. bagaimana tidak? Akidah Islam adalah wahyu
yang tidak bisa dimasuki oleh kebatilan dari arah manapun datangnya. Sebab,
kebenaran itu tidak mungkin rancu, paradox maupun kabur, melainkan serupa satu
sama lain dan saling menguatkan. Allah SWT berfirman :

Artinya
:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan
Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak didalamnya” (Q.S. An-Nisa ayat 84)
Bab
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Akidah Islam adalah kepercayan
yang mantap kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para
rasul-Nya, hari akhir, qadar baik dan buruk, serta seluruh muatan Al-Qur’an
Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah berupa pokok-pokok agama, perintah-perintah
dan berita beritanya, serta apa saja yang disepakati oleh generasi Salafush
Shalih (Ijma’) dan kepasrahan total kepada Allah swt dalam hal keputusan hukum,
perintah, takdir, maupun syara’, serta ketundukan kepada Rasulullah SAW dengan
cara mematuhi, menerima keputusan hukumnya dan mengikutinya
2.
Dasar dari akidah Islam adalah al-Qur’an dan Hadits.
Al-Qur’an dan Hadits/Sunnah Rasul merupakan dua perkara yang diwariskan kepada
umat Islam oleh Nabi Muhamad SAW, untuk dijadikan pedoman hidup umat Islam
dalam kehidupan sehari-hari, dalam segala tingkah laku dan perbuatan.
3.
Keistimewaan Akidah Islamiyah
a). Sumber
pengambilannya adalah murni
b). Berdiri diatas
fondasi penyerahan diri kepada Allah swt dan rasul-nya
c). Sesuai dengan
fitrah yang lurus dan Akal yang sehat
d). Jelas, mudah,
dan terang
e). Bebas dari
kerancauan, paradox, dan keburukan
DAFTAR PUSTAKA
Labib
Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi,
Memahami Ajaran Thoroqot & Tashowwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 55
Ensiklopedi Hukum
Islam. Ichtiar
Baru Van Hoeva, Jakarta, 1996
Zuhdi,
Madifuk. Studi Islam, Rajawali Pers,
Jakarta, 1988
Lihat Mabahits fi Aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, Syaikh
DR. NashirnAl-Aql hlm.9-10
Syaikh Muhammad bin
Ibrahim al-Hamd, Karakteristik Pengikut
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Buletin Dakwah An-Nur, IV/No. 140/Jum’at II/
Rabiul Awal, 1419 H
Al-Mahdi Haqiqah La
Khurafah, Syaikh
Muhammad bin Ismail
[1]Maqamat berasal dari bahasa Arab yang
berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya
digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang
sufi untuk berada dekat kepada Allah.
[2]Labib
Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi,
Memahami Ajaran Thoroqot & Tashowwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 55
[3]
Ensiklopedi Hukum Islam. Ichtiar Baru
Van Hoeva, Jakarta, 1996
[4]
Zuhdi, Madifuk. Studi Islam, Rajawali
Pers, Jakarta, 1988
[5]
Lihat Mabahits fi Aqidah Ahli Sunnah wal
Jamaah, Syaikh DR. NashirnAl-Aql hlm.9-10
[6]
http://ulumulislam.blogspot.com/2014/04/pengertian-aqidah-dalam-islam.html#.VRUeaPyUe10
[7] Hasan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14
Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan
Buhairah, Mesir.
Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an.
Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus
sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul
Muslimin (Persaudaraan
Muslimin).
Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga
dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai
penembak 'titipan' pemerintah pada 12
Februari 1949 di Kairo.
[8]
Abu Bakar Al-Jazairi bernama lengkap
Jabir bin Musa bin Abdul Qadir bin Jabir. Beliau biasa dipanggil Abu Bakar
Al-Jazairi. Lahir di Desa Lira, bagian selatan Aljazair pada tahun 1921. Di
kampungnya ini beliau tumbuh dan mengenyam pendidikan dasar. Di situ pula
beliau mulai menghafal Al-Quran, bait-bait gramatikal Arab dan fiqih mazhab
Maliki. Kemudian beliau pindah ke kota Baskara dan belajar ilmu-ilmu agama
serta logika kepada para alim ulamanya hingga mengajar pada salah satu madrasah
di sana.
[9]
http://nofiasftr.blogspot.com/2014/04/skl-aqidah-akhlak-20132014-full.html
[10]
Dr. Rosihon Anwar,M.Ag, Akidah Akhlak,
Bandung: Pustaka Setia, 2008 hal.15
[11]
Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Karakteristik
Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Buletin Dakwah An-Nur, IV/No. 140/Jum’at
II/ Rabiul Awal, 1419 H
[12]
Untuk melihat perbandingan akidah islam dengan komunisme lihat Madzahib Fikriyah Mu’ashirah, Muhammah
Quthub, hlm. 409
[13]
Lihat Al-Mahdi Haqiqah La Khurafah, Syaikh
Muhammad bin Ismail, hlm. 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar