Jumat, 18 Desember 2015

Makalah Aqidah Islama



Bab I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Akhlak merujuk kepada amalan, dan tingkah laku tulus yang tidak dibuat-buat yang menjadi kebiasaan. Manakala menurut istilah Islam, akhlak ialah sikap keperibadian manusia terhadap Allah, manusia, diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini berarti akhlak merujuk kepada seluruh perlakuan manusia sama ada berbentuk lahiriah maupun batiniah yang merangkumi aspek amal ibadah, percakapan, perbuatan, pergaulan, komunikasi, kasih sayang dan sebagainya.
Maqamat dalam Imu Tasawuf berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakannya. Disamping itu maqamat berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin kepada Allah.[1]
Menurut Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumad-Din, maqamat terdiri dari delapan tingkat, yaitu taubat, sabar, zuhud, tawakal, mahabbah, ridha dan makrifat.
Ketika kita memfokuskan pandangan kepada semua amala hati, sebenarnya semua itu adalah dasar dan materi iman yang mencuat darinya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada maqam yang paling komperehensif dengan cakupan atas semua ilmu dan amal sebuah hati daripada Tawakal kepada Allah SWT.
Islam sebagai agama yang membawa kebenaran dalam perjalan hidup manusia menuai banyak dinamika dalam pengajarannya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW sebagai pendobrak dekadensi moral dimuka bumi ini. Sebagai seorang muslim yang selalu bertawak kepada Allah SWT hendaknya patuh didalam ajaran-ajaran agama Islam.
Tawakkal adalah suatu siakap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena didalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuannya maha luas, dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorong untuk menyerahkan segala persolan kepada Allah. Hatinya tenang dan tentram serta tidak ada rasa curiga karena Allah maha tau dan maha bijaksana. [2]
Tidak mungkin seorang hamba tidak membutuhkan tawakal, baik tawakal kepada Allah yang tidak di tangan-nya kekuasaan atas segala sesuatu, atau tawakal kepada semua makhluk yang lemah seperti dirinya.
Bagi agama islam Allah adalah pusat pengabdian yang mendasari semua bentuk kegiatan yang dilakukan oleh ummatnya. Sedangkan dilihat dari kacamata ilmu pengetahuan, Allah-lah yang merupakan mahkota dari system-sistem yang mengatur, menguasai, dan mengurusnya. Bahkan ilmu pengetahuan dapat menemukan arti yang essensiil, disebabkan oleh adanya iman akan kekuasaan dan iradah Allah yang menguasai ketertiban dan ketetapan di alam semesta ini. ataukah bertawakal kepada makhluk yang pasti lemah seperti dirinya sehingga Ibnu Abbas menyebutnya sebagai inti iman. Sedangkan Sa’id jabir mengatakan, “Tawakal adalah separuh dari iman”, sedangkan Al-Fudhail bin Iyadh menyifatinya, “Tawakal adalah pangkal ibadah”. Jadi seorang muslim itu hendaknya taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Tuhannya.

B.   Rumusan Masalah
1.      Pengertian aqidah Islam?
2.      Dasar-dasar aqidah Islam?
3.      Keistimewaan aqidah Islam?












Bab II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Aqidah
Kata Aqidah berasal dari kata “Al-Aqdu” yang berarti ikatan (ar-rabth), pengesahan (al-Ibraam), penguatan (al-Ihkam), menjadi kokoh dan kuat (at-Tawatstsuq), Keyakinan (al-Yaqiin). Secara istilah Aqidah dapat diartikan sebagai keyakinan hati atas sesuatu. Kata Aqidah tersebut dapat dipegunakan untuk ajaran yang terdapat dalam Islam dan dapat pula digunakan untuk ajaran diluar Islam sehingga ada istilah aqidah Islam, aqidah nasrani, ada aqidah yang benar atau lurus dan ada aqidah yang sesat atau menyimpang[3]
Aqidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminology berarti landasan yang mengikat yaitu keimanan, itu sebabnya ilmu tauhid disebut dengan ilmu aqaid (aqidah) yang berarti ilmu mengikat. Dalam ajaran Islam sebagaimana dicantumkan dalam Qur’an dan Sunnah aqidah merupakan ketentuan-ketentuan dan pediman keimanan[4]. Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seseorang secara pasti adalah aqidah, baik itu benar ataupun salah.
Adapun yang dimaksud dengan akidah Islam adalah kepercayan yang mantap kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, qadar baik dan buruk, serta seluruh muatan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah berupa pokok-pokok agama, perintah-perintah dan berita beritanya, serta apa saja yang disepakati oleh generasi Salafush Shalih (Ijma’) dan kepasrahan total kepada Allah swt dalam hal keputusan hukum, perintah, takdir, maupun syara’, serta ketundukan kepada Rasulullah SAW dengan cara mematuhi, menerima keputusan hukumnya dan mengikutinya[5]

Berikut ini pengertian Akidah secara terminologis atau istilah menurut tokoh-tokoh pergerakan[6] :

A. Menurut Hasan Al-Banna [7]   

Dalam kitab al majmu'ah ar rasail disebutkan sebagai berikut :
اَلعَقـَـائِـدُ هِـيَ الاُمُـوْرُ التيْ يَــجِبُ اَنْ يَـصَّدقَ بِـــهَا قَلْــبُكَ وَتطْمَـئِنُّ اِلَــيْهَا نَفْسُــكَ وَتَـكُوْنَ يَقِـيْنًا عِنْـدَكَ لايُـمَازِحُه ُرَيْـبُ وَلا يُـــخَالِـطُهُ شَـــكٌّ
Akidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.

b. Menurut Abu Bakar Jabir Al Jaziry [8]

اَلْعــَقِيْدَةُ هِيَ مَجْمُوْعَةٌ مِنْ قَضَايَا اْلحَقِّ اْلبِدَهِيَّةِ المُسَلَّمَةِ بِاْلعَقْلِ وَالسَّمْعِ وَالفِطْرَةِ يَعْقِدُ عَلَيْــهــَا الانسان قَلبَهَا وَيُثْنِيْ عَلَيْهَا صَدْرَهُ جَازِمًا بِصِحَّتِهَا قَاطِعًا بِوُجُوْدِهَا وَثُبُوْتِهَا لا يَرَى خِلافِهَا اَنَّهُ يَصِحَّ اَنْ يَكوُنَ اَبَدًا
Akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, fitrah dan kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.



2.      Dasar Akidah Islam[9]
Dasar dari akidah Islam adalah al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits/Sunnah Rasul merupakan dua perkara yang diwariskan kepada umat Islam oleh Nabi Muhamad SAW, untuk dijadikan pedoman hidup umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, dalam segala tingkah laku dan perbuatan.
Adapun penjelasan dari masing-masing dasar aqidah Islam tersebut adalah sebagai berikut;
a.      Al-Qur’an
Al-Qur'an adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat JibrilAl-Qur’an merupakan dasar pokok akidah Islam yang paling utama. Al-Qur’an menjelaskan tentang segala hal yang ada di alam semesta ini, dari yang jelas sampai hal yang ghaib termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ajaran pokok tentang keyakinan dan keimanan. Sedangkan dasar-dasar akidah yang harus diimani oleh setiap muslim di antaranya QS an-Nisa/4 : 136
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. (QSAn- Nisa / 4 :136)


2.      Al-Hadits
Hadits adalah segala ucapan, perbuatan dan takrir (sikap diam) Nabi Muhammad SAW. Dalam agama Islam, ditegaskan bahwa hadits adalah hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an, baik sebagai sumber hukum dalam akidah ataupun dalam segala persoalan hidup manusia. Hadits memiliki fungsi sebagai pedoman yang menjelaskan masalah-masalah yang ditetapkan di dalam al-Qur’an yang masih bersifat umum.
Setidaknya ada tiga alasan bahwa Hadits merupakan pedoman akidah Islam, yaitu :
a.      Hadits yang bersumber dari Nabi Muhamad SAW, tidaklah semata-mata keluar dari hawa nafsu. Akan tetapi semata-mata berasal dari wahyu Allah SWT Sebagaimana ditegaskan QS. an-Najm/53 :3-5

Artinya :“Dan tidaklah mengucapkan dari hawa nafsu. Tetapi yang diucapkan tidak lain hanya dari wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan kepadanya oleh Jibril yang sangat kuat”. ( QSAn Najm/53 : 3 – 5 ).
Ayat tersebut berisi peringatan keras kepada orang-orang yang masih meragukan kebenaran Islam yang beliau sampaikan. Dengan adanya ayat tersebut, manusia diharapkan untuk memercayai dengan sepenuh hati bahwa apa-apa yang diucapkan oleh Rasulullah SAW benar-benar berasal dari Allah SWT, bahwa Rasulullah SAW memiliki sifat shidiq (benar).
b.      Allah SWT telah memberi petunjuk kepada manusia agar mengakui kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Hasyr/59: 7 yang artinya:
“…apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”
Apa-apa yang disampaikan Rasulullah SAW. kepada manusia adalah petunjuk hidup dari Allah SWT. Termasuk akidah Islam. Oleh karena itu, setiap orang yang mengaku beriman kepada Rasul wajib mengikuti akidah yang diajarkan Rasulullah SAW.
c.      Banyak Hadits yang menjelaskan maksud beberapa ayat Al-qur'an yang masih bersifat global, termasuk masalah akidah Islam. Contohnya Allah swt berfirman sebagai berikut:
Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun …”(Q.S. An-Nisa'/4: 36)
Ayat diatas berisi perintah untuk menyembah Allah saja dan larangan menyekutukan Dia dengan apa pun, tetapi tidak dijelaskan bagaimana cara menyembah Allah dan bagaimana pula sikap yang tidak tergolong mempersekutukan Dia.
Tata cara menyembah Allah dan bentuk-bentuk perbuatan menyekutukan Allah dapat dipahami melalui hadits Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, hadits dapat memperjelas maksud ayat Al-Qur'an.
Di dalam hadits disebutkan bahwa bentuk-bentuk menyekutukan Allah, antara lain memuja patung, minta tolong kepada roh nenek moyang, dan membuat sesaji untuk jin dan setan.
3.      Keistimewaan Akidah islam[10]
Menurut Syekh Muhammad Ibrahim al-Hamd, akidah Islamiyah yang tercermin di dalam akidah Ahlus sunnah wal jama’ah, memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak dimiliki akidah mana pun. Hal ini tidak mengherankan, karena akidah tersebut diambil dariw ahyu yang tidak tersentuh kebatilan dari arah mana pun datangnya[11]. Keistimewaan tersebut, antara lain diambil sebagai berikut :
1.      Sumber Pengambilannya adalah murni
Hal ini karena akidah Islam berpegang Pada Al-Qur’an, Ash-Sunnah dan Ijma’ Salafush shalih. Jadi, akidah islam diambil dari sumber yang jernih dan jauh dari kekurangan hawa nafisu dan syahwat. Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh berbagai madzhab, millah dan ideology lainnya diluar akidah islam[12]
2.      Berdiri Diatas Fondasi Penyerahan Diri Kepada Allah dan Rasulnya
Hal ini karena akidah bersifat gaib, dan yang gaib tersebut bertumpu pada penyerahan diri. Dus, kaki Islam tidak akan berdiri tegak, melainkan diatas fondasi penyerahan diri dan kepasrahan. Jadi, iman kepada yang gaib merupakan salah satu sifat terpenting bagi orang-orang mukmin yang dipuji oleh Allah swt.
3.      Sesuai Dengan Fitrah Yang Lurus Dan Akal Yang Sehat
Akidah Islam sesuai dengan fitrah yang sehat dan selaras dengan akal yang murni. Akal murni yang bebas dari pengaruh syahwat dan syubhat tidak akan bertentangan dengan nash yang shahih dan bebas dari cacat.
Adapun akidah-akidah lainnya adalah halusinasi dan asumsi-asumsi yang membutakan fitrah dan membodohkan akal. Oleh karena itu, jika seseorang bisa melepaskan diri dari segala macam akidah dan hatinya menjadi menjadi kosong dari kebenaran dan kebatilan, kemudian ia mengamati semua jenis akidah yang benar maupun yang salah dengan adil, fair, dan pemahaman yang benar, niscaya ia akan melihat kebenaran dengan jelas dan mengetahui bahwasanya orang yang menganggap sama antara akidah yang benar dan yang tidak benar ibarat orang yang menganggap sama antara malam dan siang[13]
4.      Jelas, Mudah, dan Terang
Akidah Islam adalah akidah yang mudah dan jelas, sejelas matahari ditengah hari. Tidak ada kekaburan, kerumitan, kerancuan, maupun kebengkokan didalamnya. Karena lafazh-lafazhnya begitu jelas dan makna-maknanya demikian terang sehingga bisa dipahami oleh orang berilmu maupun orang awam, anak kecil maupun orang tua. Karena Rasulullah SAW membawakannya dalam kondisi yang putih bersih tidak ada yang menyimpang darinya, selain orang yang binasa.
5.      Bebas Dari Kerancauan, Paradoks, Dan Keburukan
Didalam akidah Islam tidak ada tempat untuk hal-hal semacam itu. bagaimana tidak? Akidah Islam adalah wahyu yang tidak bisa dimasuki oleh kebatilan dari arah manapun datangnya. Sebab, kebenaran itu tidak mungkin rancu, paradox maupun kabur, melainkan serupa satu sama lain dan saling menguatkan. Allah SWT berfirman :


Artinya :
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya” (Q.S. An-Nisa ayat 84)













Bab III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

1.      Akidah Islam adalah kepercayan yang mantap kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, qadar baik dan buruk, serta seluruh muatan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah berupa pokok-pokok agama, perintah-perintah dan berita beritanya, serta apa saja yang disepakati oleh generasi Salafush Shalih (Ijma’) dan kepasrahan total kepada Allah swt dalam hal keputusan hukum, perintah, takdir, maupun syara’, serta ketundukan kepada Rasulullah SAW dengan cara mematuhi, menerima keputusan hukumnya dan mengikutinya
2.      Dasar dari akidah Islam adalah al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits/Sunnah Rasul merupakan dua perkara yang diwariskan kepada umat Islam oleh Nabi Muhamad SAW, untuk dijadikan pedoman hidup umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, dalam segala tingkah laku dan perbuatan.
3.      Keistimewaan Akidah Islamiyah
a). Sumber pengambilannya adalah murni
b). Berdiri diatas fondasi penyerahan diri kepada Allah swt dan rasul-nya
c). Sesuai dengan fitrah yang lurus dan Akal yang sehat
d). Jelas, mudah, dan terang
e). Bebas dari kerancauan, paradox, dan keburukan







DAFTAR PUSTAKA

Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoroqot & Tashowwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 55

Ensiklopedi Hukum Islam. Ichtiar Baru Van Hoeva, Jakarta, 1996 

Zuhdi, Madifuk. Studi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 1988 

Lihat Mabahits fi Aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, Syaikh DR. NashirnAl-Aql hlm.9-10

Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Karakteristik Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Buletin Dakwah An-Nur, IV/No. 140/Jum’at II/ Rabiul Awal, 1419 H

Al-Mahdi Haqiqah La Khurafah, Syaikh Muhammad bin Ismail





[1]Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah.
[2]Labib Mz, Rahasia Kehidupan Orang Sufi, Memahami Ajaran Thoroqot & Tashowwuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 55
[3] Ensiklopedi Hukum Islam. Ichtiar Baru Van Hoeva, Jakarta, 1996 
[4] Zuhdi, Madifuk. Studi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 1988 
[5] Lihat Mabahits fi Aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, Syaikh DR. NashirnAl-Aql hlm.9-10
[6] http://ulumulislam.blogspot.com/2014/04/pengertian-aqidah-dalam-islam.html#.VRUeaPyUe10
[7] Hasan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an. Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslimin).
Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah pada 12 Februari 1949 di Kairo.
[8] Abu Bakar Al-Jazairi bernama lengkap Jabir bin Musa bin Abdul Qadir bin Jabir. Beliau biasa dipanggil Abu Bakar Al-Jazairi. Lahir di Desa Lira, bagian selatan Aljazair pada tahun 1921. Di kampungnya ini beliau tumbuh dan mengenyam pendidikan dasar. Di situ pula beliau mulai menghafal Al-Quran, bait-bait gramatikal Arab dan fiqih mazhab Maliki. Kemudian beliau pindah ke kota Baskara dan belajar ilmu-ilmu agama serta logika kepada para alim ulamanya hingga mengajar pada salah satu madrasah di sana.
[9] http://nofiasftr.blogspot.com/2014/04/skl-aqidah-akhlak-20132014-full.html
[10] Dr. Rosihon Anwar,M.Ag, Akidah Akhlak, Bandung: Pustaka Setia, 2008 hal.15
[11] Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Karakteristik Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Buletin Dakwah An-Nur, IV/No. 140/Jum’at II/ Rabiul Awal, 1419 H
[12] Untuk melihat perbandingan akidah islam dengan komunisme lihat Madzahib Fikriyah Mu’ashirah, Muhammah Quthub, hlm. 409
[13] Lihat Al-Mahdi Haqiqah La Khurafah, Syaikh Muhammad bin Ismail, hlm. 14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar